Breaking News
Foto : (dok.msp).
Foto : (dok.msp).

1 Sura, Warangi Keris Laris Manis

Reporter : aditya eko

MOJOAGUNG, MSP – Memasuki 1 Sura atau Tahun Baru menurut kalender Jawa yang juga merupakan tahun Hijriyah bagi umat Muslim, masyarakat Indonesia terutama yang berasal dari adat Jawa biasa melakukan tradisi–tradisi tertentu atau bisa disebut dengan bulan yang sakral. Salah satunya melakukan ruwatan keris (merawat keris dengan mencucinya).

Tradisi itu ternyata mendatangkan banyak rezeki bagi tukang cuci keris di berbagai tempat, salah satunya di Kecamatan Mojoagung, Jombang. Yaitu Sudahri, laki-laki pemilik bengkel cuci keris yang berada di Pasar Mojotrisno yang tidak pernah sepi pengunjung ketika bulan Sura tiba. Mereka ingin mencuci keris mereka, agar ukiran dan guratan pada bilah keris (pamor) lebih nampak.

“Tiap Bulan Sura memang benar banyak orang yang kesini. Tidak hanya untuk membenahi keris, tapi juga ada yang nitip untuk mencucinya. Sebab keris itu kan harus diruwat salah satunya dengan warangi (mencucikan keris, red). Dan proses pencuciannya tak boleh sembarangan,” kata Sudahri ketika ditemui di bengkelnya.

Pria kelahiran Sumenep, Madura ini menekuni profesi sebagai tukang cuci keris pusaka sejak tahun 2003 silam. Dia mengaku mewarisi keahlian tersebut dari sang kakek.Untuk mencuci sebilah keris, tampaknya cukup mudah. Bilah keris disikat menggunakan cairan jeruk nipis, sabun colek dan lerak. Setelah dibilas dengan air bersih, selanjutnya bilah keris dijemur hingga kering. Pada tahap akhir, bilah keris direndam dengan larutan khusus untuk memunculkan pamor keris.

“Namun, untuk memandikan dan mewarangi keris dengan benar biasanya hanya dilakukan oleh keturunan keluarga dan orang yang memang telah profesional dalam memandikan keris. Karena faktanya membutuhkan berbagai ritual dan diwajibkan untuk memenuhi persyaratan yang ada. Selain itu, dibutuhkan ketrampilan khusus untuk membersihkan dan memunculkan pamor yang ada dengan benar tanpa merusak permukaan keris yang lain,” papar Sudahri.

Saat hendak memandikan keris pun, ada berbagai persyaratan yang harus dilakukan. Selain itu, memandikan keris pun akan memakan waktu yang sangat lama. Karena membutuhkan suatu kesabaran dan ketelitian yang tinggi saat membersihkannya, agar keris yang ada tampak semakin indah dan mengeluarkan auranya. Karena itulah, jasa memandikan keris sangatlah digandrungi hingga saat ini.

Mengenai mitos mistis keris-keris itu, Sudahri yang sejak kecil sudah hidup berdampingan dengan keris mengaku sering mengalami hal-hal gaib terkait benda pusaka khas Jawa itu. Namun karena sudah terbiasa, ia tidak merasa terganggu. Justru kedekatannya dengan keris-keris tersebut yang membuat dirinya makin dikenal masyarakat. Sebab profesi yang tidak biasa ini, sebenarnya memang sudah turun temurun diwariskan.

Pria asal Desa Miagan, Mojoagung ini menuturkan, “Keris-keris milik pelanggan yang saya cuci merupakan keris pusaka yang umurnya puluhan tahun. Tidak hanya dari masyarakat biasa, terkadang dari kalangan pejabat yang gemar merawat keris pusaka, baik dari Jombang maupun dari luar daerah.”

Bapak tiga anak itu menambahkan jika hari biasa maksimal 10 keris per hari yang dapat dia warangi, namun pada bulan Sura ini rata-rata 25 keris, bahkan sampai 30 keris sehari. Untuk tarifnya, Sudahri mengukur tergantung dengan besar bilah, ukuran stadar Rp 40 ribu per bilah, kalau ukuran besar 60 sampai 70 sentimeter bisa sampai Rp 150 ribu.

Selain menyediakan jasa cuci keris pusaka, di bengkel miliknya Sudahri juga mengerjakan pesanan sarung keris dan tombak (warangka). Pria berlogat madura ini sekaligus menerima jual-beli keris pusaka. Tiyas

Check Also

Foto : Joice Adelien Manoppo menyerahkan buku tabungan anggota Bank Sampah Jombang. (rahmat)

Desainer Baju Anorganik

Reporter : chicilia risca JOMBANG, MSP – Kecintaan terhadap membaca, memberikan ruang kesempatan bagi seorang …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!