Foto : Ilustrasi
Foto : Ilustrasi

Awak Pantai dan Seorang Pujangga

Alfaridza Ainun Hapsari *)

Duduk manis seorang pujangga tanpa nama di bawah pohon kelapa tepi pantai. Tak ada apapun dipikirkannya, sekalipun untuk melamun. Matanya kosong melihat puluhan camar di tengah laut yang bersiap mematuk ikan. Tangannya erat menggenggam ranting kering yang beberapa hari lalu digunakannya untuk menulis simbol-simbol yang hancur terusap gelombang pasang pada bibir pantai. Simbol-simbol yang membuatnya mematung selama ini. Pasir yang kelu menjadi saksi kehampaannya, begitu pula keong dan kelomang kecil yang tak bercangkang. Dari jauh mata tajam camar-camar membidik keadaan di tepi pantai, bila saja mereka temukan keong atau kelomang lemah tanpa cangkang berjalan kesana-kemari mencari cangkang yang lebih besar untuk tempatnya berlindung. Uap air laut yang mengudara seakan mengusir camar-camar yang menghalanginya ke langit untuk menjalankan siklus sewajarnya.

“Apakah diriku penyebabnya jadi seperti ini?” tanya ranting kering kepada pasir

Mendengar ranting kering berbisik seperti itu pasir menitihkan air matanya, “Akulah penyebabnya. Bukan kau wahai ranting kering yang bersahaja. Bila pujangga ini menyepi karenamu, pastilah kau sudah dibuangnya sekarang.” tangisnya semakin kencang, membuat butiran-butiran tubuhnya basah.

“Mengapa bukan aku? Kurasa akulah penjahat hatinya, perusak imajinasi jingga yang digambarkannya pada tubuhmu.”

“Justru karena kenampakankulah yang membuatnya bersedih!” sambar pasir dengan tangis yang kian mengeras

Ranting keringpun menegang, tak pernah pasir berkata dengan nada tinggi sebelumnya. Pasir adalah yang paling bijaksana diantara penghuni ekosistem tepi pantai.

“Ada apa ini? Mengapa di siang yang teduh seperti ini terjadi keributan? Apakah pujangga ini pembuatnya?” sahut kelomang kecil tak bercangkang. Tak tahu sejak kapan berada di atas paha si pujangga. Kelomang pemalas ini tak mau mencari cangkang baru sejak cangkang lamanya dilepasnya enam hari lalu, karena sudah tidak cukup untuk menaungi tubuhnya yang mengalami pertumbuhan. Tidurnya berselimut pasir, namun terkadang di bawah akar-akar serabut kokoh pohon kelapa, atau juga pada semak-semak yang berjarak 20 meter dari bibir pantai yang menyimpan banyak serangga.

“Sadarkan kau, bahwa pujangga ini seperti tak bercita lagi?” jawab pasir dengan pertanyaan yang ditujukan kepada setiap yang mendengarkannya.

Hati ranting kecil pun merasakan desakan. Semakin menegang seluruh tubuhnya, sampai-sampai mengedipkan kelopak mata pun tak mampu. Seakan ia tak mau menjadi ranting kering lagi, inginnya menceburkan diri ke lautan lalu terbawa gelombang dan tak kembali lagi, hingga dirinya membusuk di dalamnya. Lalu terbebas dari ocehan-ocehan penusuk yang belumlah dia tahu benarnya.

“Apa yang terjadi padanya?” terus si kelomang kecil, fokusnya seakan hanya tertuju pada kelompok yang ditemuinya ini, kelompok dengan konflik baru. Tidak diindahkannya keselamatan, tak mempedulikan ada atau tidaknya camar yang bisa menyerang kapan saja bagi tubuh tak bercangkangnya. “Kita tidak bisa terus berdiam atas pujangga ini? Matanya tampak buta, melihat diriku di pahanya pun tak bisa.” Terusnya

“Belumlah sampai kesitu aku berpikir.” Rintih ranting kering

“Kebebasan yang harus dia dapat. Syurga ini tak boleh dikotori dengan kesedihan.” Tegas pasir, “Aku memang diinjak, tapi tanpa aku bukanlah pantai tempat ini namanya. Semakin banyak manusia menginjak-injak diriku dengan riang, semakin kubisa bernafas lega.”

“Namun percuma, pujangga kesepian ini tak lagi bangkit. Bukankah pujangga ini tinggal terpaku disini sejak enam hari yang lalu? Lihatlah cangkang kecilku yang sengaja kulepas diantara jari-jari kakinya pun masih pada tempatnya seperti dahulu.”

“Benar memang, akupun sudah gerah digenggamnya erat. Tak kuhitung sudah berapa hari aku digenggamannya. Namun kau bertirakat menghitungnya, pandai pula ternyata kau kelomang.” Ranting kering mulai memberanikan diri membuka mulut lebih lebar, karena dipikirnya kelomang sebagai penetral persilatan lidah antaranya dengan pasir.

“Kita tunggu saja sampai pujangga ini terbangun..” kebijaksanaan pasir mengutara perlahan mengakhiri.

Ranting kering masih saja tak berani menatap pasir, meski tubuhnya sedari lalu menyatu dengan pasir. Masih terasa gagu. Kelomang mengangguk-angguk sambil menuruni paha si pujangga melalui celana cokelat muda berkempolnya.

***

Habislah matahari termakan malam. Angin darat menggebu-gebu berdesakan mengambil start dan berlari sprint ke tengah laut. Gelombang tenang laut berhias pantulan lampu-lampu kapal nelayan, berlomba mempercantik diri melebihi sembilan ribu kerlip bintang di langit. Pantai yang sunyi menentramkan malam terang sempurna bentuk bulan itu. Namun, kenampakan yang sama tetaplah sama. Duduk bersandar menatap syurga malam dengan bola mata yang kosong, seorang pujangga penikmat pantai tanpa jera. Matanya tak lagi berkedip, menggerakkan jemarinya pun tidak. Tidak la            gi sekedar hanya untuk menguap, mulutnya terkunci. Ranting kering yang digenggamnya bahkan telah meronta-ronta ingin membebaskan diri, begitupun pasir yang sedang didudukinya. Hidupnya mungkin menggelap, lebih-lebih tak ada tetes cahaya yang ia punya. Udara seakan menyeka dirinya tuk dapat bangkit. Tiada daya membuatnya berhenti berupaya. Malam pun dibuatnya bingung.

“Cukup lama kita menunggu, sampai kapan seperti ini? Aku telah bosan memberinya keringanan untuk memperpanjang kebisuannya.” Pecah pasir pada keheningnya malam

“Aku juga tak kuasa melihatnya seperti ini. Sampai kapan pujangga ini bersandar pada batangku? Semakin lama ia disini, semakin mirip pula dirinya dengan bangkai kapal perombak.” Balas pohon kelapa

“Sejak kapan kau sependapat denganku? Bukankah semua pemikiranku selalu kau jadikan antitesis?”

“Tidak semua pikiranmu idealis. Baru kali ini memang kurasa pikiranmu rasional.”

Ranting kering tak ikut berbicara. Konflik dan perdebatan selalu dihindarinya. Dirinya takut adanya permusuhan yang berujung sendiri, hidup berdampingan namun berdiri sendiri tak punya pemihak. Tak mau dia ikut campur. Berpura-pura tidur atau menuli sejenak adalah pilihan tetapnya.

“Perhitungan sekali kau dengan pemikiranku? Percaya kau bahwa aku mempunyai otak tuk berpikir matang?” tantang pasir yang entah mengapa menjadi tempramental mendadak

“Tentu, meski tak semua yang keluar dari mulutmu itu hasil dari sebuah ide atau pemikiran, setidaknya kau punya hati sebagai pendorong adanya kau berbicara.” Jawab ketus pohon kelapa yang daunnya bergerak-gerak akibat air laut

“Persetan dengan kau! Jika bisa kugeser diriku ini, aku akan melakukannya sedari dulu. Tak sudi aku menjadi karpet hingga masa matimu.”

“Kita takkan berpisah. Tanpa aku bibir pantaimu itu takkan elok.” sombongnya

“Tau apa kau tentang elok? Bisamu hanya menjatuhkan daun-daun kering pada diriku, semakin membuat pantai ini kotor! Mana ada elok di kehidupanmu?”

Tak ada yang bisa menghentikan perselisihan itu. Sejak pohon kelapa masih sebatang nyiur, tak pernah ada habis topik-topik untuk diperdebatkan dengan pasir. Kebijaksanaan pasir pun terbatas disini.

“Cukuplah aku berada disini-” ucap pohon kelapa terputus oleh camar yang mendarat di pasir dan berkata, “Masih saja pantai ini menjadi tempat peperangan.”

“Mau apa kau kemari?!” bentak pasir

“Tetap saja kau tak mau berkawan dengaku rupanya?”

“Bukan dia tak mau berkawan denganmu wahai burung camar, melainkan dia selalu pilih-pilih untuk mencari teman.” Jawab pohon kelapa

“Benar persetanan denganmu!!” serapat pasir pada pohon kelapa

“Sudahlah, terlalu tua untuk berdendam. Kurasa cukup sampai saat ini saja..” pinta burung camar

Suasana menghening, mata ranting kering melirik burung camar, begitu juga pasir dan pohon kelapa. Otak-otak yang entah dimana bersemayan mulai bekerja dengan hatinya, menjalankan misi diplomasi.

“Tidakkah kalian lelah dengan semua ini? Memaksa lubang pita suara kita untuk mengeluarkan teriakan yang sebenarnya tak bersuara di udara?” tambah burung camar

“Aku lelah…” seru ranting kering pelan

“Nah, apa kalian mendengarnya?” mata camar memandang bergantian pohon kelapa dan pasir yang diinjaknya. “Hei! Sejak kapan pula kau berada di sini ranting kering? Mengapa kau baru bersuara??”

“Dia tidaklah cukup berani untuk bersuara, apalagi di antara perselisihan seperti ini..” pohon kelapa menerangkan, ranting kering hanya melirik dan tetap tertunduk.

“Mengapa begitu? Merasa kecilkah kau?”

“Tidak ada rasa kecil pada dirinya. Hati lemahnya takkan sanggup menyudahi perkara ini.”

“Apa yang kau maksud pasir?? Hatiku tak lagi lemah!” ranting kering mulai mendongak.

“Terbukti. Selama ini kau memang diam, apa lagi kalau bukan hatimulah yang bermasalah?” ramal pasir

“Sudahlah, masalah apa lagi yang ingin kau tambah pasir? Banyak masalah yang belum terselesaikan, janganlah kau menambahinya…” sela burun­g camar

Datanglah dua paruh baya bercelana pendek tanpa baju dan seorang tua yang membawa jala. Mereka mendekat dan berbicara bahasa manusia yang tak dimengerti awak-awak pantai yang sedang berusaha menyelesaikan masalah itu. Setelah sampai pun mulut ketiga manusia itu tak henti-hentinya berbicara, seperti monyet yang sedang kelaparan. Mereka menggoyang-goyangkan lengan pujangga yang menjadi awal bertambahnya pertikaian disitu. Namun pujangga itu tetap saja tak berkutik. Diletakkannya jari telunjuk dan jari tengah manusia tua pembawa jala pada leher sebelah kiri sang pujangga. Matanya menerka-nerka, lalu dialihkan kepada kedua rekan mudanya dan berbicara lagi. Salah seorang paruh baya mengusap kening sang pujangga secara vertikal ke bawah hingga pada dagunya. Mata kosong sang pujangga pun tertutup tanpa ada pemberontakan.

Awak-awak pantai bermain mata sesamanya. Menggerutu dengan bahasanya sendiri yang tak terbaca oleh udara. Tak bisa bergerak, kecuali burung camar yang bergegas terbang ke atas daun pohon kelapa sejak ketiga manusia itu tiba. Perlahan, manusia-manusia itu mengangkat tubuh si pujangga. Ranting kering yang ada digenggamnya pun jatuh di atas pasir, mendarat bak tembakan meriam yang tak bersuara.

Bodoh, seekor kelomang kecil baru datang membawa cangkang baru. Diteriakinya pujangga beroda tiga manusia dengan suara bisunya hingga cangkangnya terlepas.

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Trunojoyo  Madura. Alumni SMA Negeri Ngoro 2016.

Check Also

Ikan

Alib Syah Zanki *) Di suatu waktu, dari jendela Ku lihat ikan-ikan berenang kesana-kemari Apakah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!