Breaking News

Babu Jadi Tuan

Karya: Ramilury Kurniawan *)

Malang, awal Juli1947. Suasana cukup genting akhir-akhir ini, semua bergerak sangat cepat, bahkan tidak ada yang pasti.

Aku masih lemas karena hampir semalaman tidak tidur, pagi juga tidak bisa istirahat barang sejenak, sekarang sudah sore hari lagi. Dan berita buruknya, ketika keadaan mulai tenang sore ini, aku lagi-lagi masih tidak memiliki kesempatan untuk istirahat karena suara ketukan pintu terdengar berkali-kali.

“Mas Yanto…Mas Yanto…ini aku, Pono.”

Tampaknya sudah 10 kali Pono mengetuk pintu sambil berteriak hal yang sama untuk memanggilku. Dengan langkah berat aku menuju kedepan, kubukakan pintu untuknya.

“Mas Yanto, untung Mas yanto dirumah, aku sangat ingin menemui Mas Yanto sebelum dinas mas.”

“Ahh Pono rupanya, seragammu necis[1] sekali, mari masuk..”

Sejujurnya, dalam kantukku aku agak terkaget dengan Pono yang sekarang. Bahkan karena melihatnya barusan, aku justru ingin lebih tahu, mengapa dia bisa mengenakan seragam militer yang kelihatannya lebih mirip seragamnya Jepang daripada Belanda. Dengan seragamnya itu, sebenarnya dia berhak dipanggil “tuan” olehku.

“Mas Yanto, dulu Mas Yanto pernah membantu keluarga saya dengan memberikan beras setengah karung saat kami sedang kekurangan, sekarang saya mau membalas jasa Mas Yanto”

“Beras, ahh… yang waktu zaman Jepang itu ya? Itu sudah tugasku sebagai tonarigurmityo[2] masa itu. Aku tau keluargamu sudah tidak makan nasi selama berhari-hari”

“Iya mas, masa itu memang aku dan keluargaku lebih sering makan jagung daripada nasi.”

“Makan jagungpun itu kamu masih untung-untungan Pono, aku pernah melihat satu keluarga cuma makan karak bekas restoran.”

“Masa-masa yang susah sekali ya mas, untung sekarang kita sudah merdeka”

“Merdekapun sepertinya kita masih tetap dalam bahaya kelaparan Pono, malah sekarang punya beras dalam jumlah cukup bisa jadi target para bandit-bandit kan?, suasana serba tidak menentu sekarang.”

Pono terdiam, sejak tadi aku tidak ingin membicarakan ini, aku ingin mengalihkan pembicaraan ke sesuatu yang membuatku penasaran.  Aku tahu dia diam karena sedikit tidak terima dengan apayang kukatakan barusan, atau malu dengan seragam yang dia kenakan, entahlah. Yang jelas, sebelum dia melanjutkan pembicaraan, aku mendahuluinya.

“Seragammu bagus benar, kamu dapat darimana, setauku kamu tidak pernah ikut pelatihan militer sebelumnya.”

“Iya mas, awal merdeka dulu, aku keluar dari pekerjaanku, aku ikut dalam salah satu laskar perjuangan. Tidak tahunya, satu minggu yang lalu ada seorang komandan TNI mauberunding sama pimpinan Belanda.Ternyata tidak ada yang bisa bahasa Belanda sama sekali. Aku mengajukan diri karena dulu sedikit-sedikit bisa bahasa Belanda.”

“Lalu atas jasamu kamu dimasukkan TNI?”

“Benar sekali mas, akhirnya aku dijadikan prajurit sungguhan, dikasih seragam, bahkan dikasih pistol. Sekarang senjataku bukan cuma bambu runcing mas.”

Aku lihat lagi dandanan si Pono, dia memang membawa pistol, bodohnya moncong pistol itu diarahkan masuk kedalam celananya, khas gaya laskar ketika pertama kali membawa senjata api. Apa dia tidak takut senjata itu meledak dan menembus pahanya? Pono..Pono.., begini gayanya menjadi prajurit TNI. Aku saja belum yakin dia bisa menembak dengan tepat dari jarak 10 meter. Tapi aneh juga, prajurit baru seperti Pono bisa membawa pistol. Bukankah kebanyakan hanya boleh diberikan kepada komandan-komandan TNI?

“Lalu apa yang kamu katakan sama komandan Belanda itu? Kamu beneran fasih bahasa Belanda.”

“Hahaha.. Mas Yanto ini bagaimana, kalo perundingan militer ya saya tidak bisa lah mas, apa itu peta, apa itu mortir, apa itu peleton, mana saya tahu. Saya cuma nyapa Belanda itu, saya tanya apa yang dia mau, setelah itu dia berbicara sambil menunjuk-nunjuk peta, saya manggut-manggut. Selebihnya saya tidak tahu apa yang Belanda itu katakan”

“Kamu bilang apa ke komandan TNI itu?”

“Saya bilang kalo Belanda tidak akan meneyerang selama kita tidak menyeberang garis perbatasan di Dinoyo, itu saja, dan kami lekas kembali.”

“Gila kamu…kalo kamu salah mengartikan, bisa hancur lebur pasukan TNI.”

“Tidak mas, tenang saja, itu sudah satu minggu yang lalu kok.” Jawab Pono sambil tertawa cengengesan.

Benar-benar tidak tahu tanggung-jawab orang ini. Tidak tahu saat penting, tidak tahu saat genting, hanya memikirkan udelnya[3] sendiri.

Pono melanjutkan perkataannya.

“Ini mas, aku kesini tadi mau memberikan beras satu karung ini mas.”

Aku masih diam, tentu aku tidak berani menolak. Setidaknya meskipun Pono tetap sama bodohnya seperti dulu, dia masih mau membalas jasa kepadaku. Entah apa yang dilakukannya salah, entah benar, aku terima saja. Aku Cuma takut jika beras itu hasil dari para bandit-bandit yang merampok segala macam rumah mewah dan toko-toko belakangan ini.

Kubuang pikiran itu, peduli apa, keluargaku memang butuh beras. Tetanggaku juga mungkin nanti butuh, aku bisa membaginya. Aku angkat beras satu karung itu sendirian ke gudang. Saat aku kembali ke ruang tamu, Pono sudah berdiri di depan pintu untuk berpamitan.

“Saya pergi dulu mas, saya harus segera dinas.”

“Dinas dimana kamu pon?”

“Dinas dimana saja komandan saya menugaskan mas.”

“Oya, sebelum kamu pergi aku mau tanya, benar pangkat kamu letnan?”  Aku bisa tahu pangkat Pono dari tanda yang ada di pundak seragamnya

“Iya mas, satu minggu lalu aku diangkat masuk TNI sebagai kopral, karena komandan memuji kerjaku, sekarang aku diangkat jadi letnan.”

Aku hanya manggut-manggut. Gila sekali, dari kopral menjadi letnan tidak lebih dari satu minggu. Kopral paling berjasa dalam perang dunia ke-2 sekalipun pasti hanya naik menjadi sersan, bukan letnan.

Pono pun pergi meninggalkan aku sendiri yang masih terus memandanginya di depan pintu rumahku.

Zaman ini memang sudah edan. Apapun bisa terjadi di zaman ini.

Tadi malam hingga jam 10 siang tadi, beberapa rumah tetanggaku dihancurkan dengan dinamit. Beberapa tetanggaku yang Tionghoa bahkan ikut dibakar dalam rumahnya. Teriakan “mata—mata londo[4]” turut mengiringi pembakaran manusia secara hidup-hidup itu. Tidak usah beli petasan lagi pada zaman ini. Setiap hari aku mendengar ledakan dimana-mana. Api membara dimana-mana, dan yang mengerikan, manusia dipanggang dimana-mana. Harga satu nyawa manusia bahkan lebih murah dari seekor kambing.

Atas dasar itu aku mengungsikan keluargaku ke Jombang, aku rasa disana lebih aman, namun entahlah. Sebagai bekas tonarigumityo, aku harus tetap berada di lingkunganku. Dengan siksaan menyaksikan seluruh kegilaan ini tentunya.

Bagaimana bisa tidak kusebut sebagai siksaan jika aku melihat sesuatu yang sangat menyakitkan, ingin membantu, namun tiada pula memiliki daya apa-apa. Membantu seseorang di zaman yang gila seperti ini sudah cukup untuk dijadikan alasan ikut dipanggang hidup-hidup.

Dunia seperti bergerak terlalu cepat.

Pono, seorang babu[5] di gudang beras masa Belanda dan Jepang, tiba-tiba menghampiriku dengan pangkat letnan. Padahal dulu, ketika masa Jepang berkuasa, aku yang membantu keluarganya dengan memberikan beras. Sebuah ironi pada masa itu ketika babu di gudang beras justru tidak bisa menikmati nasi di dapur rumahnya.

Sekarang dengan pangkat letnan, siapapun penduduk biasa tentu mau tidak mau memanggilnya sebagai tuan. Tuan?….ah Pono mana punya pikiran jika suatu saat dia akan menjadi tuan seperti ini.

Kegilaan ini terus berlanjut, tidur atau bahkan sekedar istirahat barang satu menit saja merupakan barang langka bagiku.Ledakan, teriakan, makian itu terus terdengar di telinga ini. Mana bisa manusia tidur dengan tenang pada masa sekarang. Sebagai mantan tonarigumityo aku juga berusaha mengurus penguburan manusia-manusia yang dipanggang oleh kelompok-kelompok yang mengatakan dirinya revolusioner, mungkin orang-orang seperti Pono juga berhak disebut revolusioner. Lalu, mana bisa manusia normal sepertiku tidak mimpi buruk ketika terbayang tubuh-tubuh gosong yang aku kuburkan?

Keadaan semakin genting memasuki pertengahan Juli 1947.

Tepat pada tanggal 27 Juli pukul 10.00, aku meringkuk di bawah daun jendela sembari mengintip tank-tank Belanda berpatroli di kota ini. Tentu aku harus bersembunyi karena moncong dari senapan otomatis itu bergerak ke kiri dan ke kanan mencari mangsa. Orang-orang seperti Pono secara khusus akan menjadi target utama.

Bertahun-tahun orang-orang seperti Pono menjadi babu, tiba-tiba jadi tuan, sekarang sang tuan harus menghadapi golongan lainnya yang ingin kembali menjadi tuan.

Sayangnya aku tidak membawa senjata, tinggal aku meringkuk dan tetap meringkuk dalam rumah yang secara ajaib tidak ikut dibakar ini.

*) Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang

[1] Bahasa yang sering digunakan rakyat ketika itu untuk menyebut kata “Keren”.

[2] Semacam ketua RT pada masa pendudukan Jepang.

[3] Pusar. Kata ini sering dikatakan oleh masyarakat pada masa itu ketika dalam keadaan jengkel kepada orang lain.

[4] Sebutan rakyat untuk Belanda.

[5] Pembantu

Check Also

Hujan Bermelodi di Bulan Desember

Aiku Hana*) Pagi ini dengan ditemani angin sejuk dipagi hari, embun yang menempel di dedaunan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!