Bukan Sandiwara

Surya Indah Pradina*)

Cobalah melihat lebih dekat
Kemudian kau akan tau yang sebenarnya
Apakah hidup adalah panggung sandiwara? Itu adalah salah besar.
Hidup adalah kenyataan, dan sandiwara hanya sebagai rintangan
Maka jangan bersandiwara di hidupmu, tetapi nyatalah di hidupmu…

“Gorengan! Gorengan! Gorengannya masih hangat!” Aku berjalan mengelilingi kampung sambil berteriak menjajahkan gorengan yang aku bawa. Masih hangat karena budhe baru selesai menggorengnya. Musim penghujan di kotaku yang belum juga berakhir, cocok jika ditemani dengan beberapa gorengan. Yam yam yam. Mantap!
“Gorengan, Rek! Gorengan Pak, Bu! Enak enak enak!” Lintang, adikku yang sekarang duduk di kelas 2 SD juga ikut bersamaku. Setiap sore kami berdualah yang membantu Budhe berjualan gorengan. Yah, walaupun upah yang kami dapat tidak banyak, tetapi kami berusaha untuk bersyukur. “Mbak, istirahat dulu yo? Kakiku udah pegel-pegel nih, Mbak,” ajak Lintang. Aku lihat beberapa langkah ada pos ronda yang sepi, mungkin bisa beristirahat disana sambil menjajahkan gorengan yang masih belum terjual. Terasa sedih jika belum laku, tapi apa boleh buat? Usaha lagi saja. Always keep Spirit until in the end. Huh, Alay!
“Mbak, kemarin aku dipanggil ke ruang guru?”
“Lho kamu berantem lagi toh, Dek?” tanyaku. Aku lihat wajah adikku begitu risau.
“Nggak lah, Mbak. Aku dipanggil karena belum melunasi pembayaran buku sekolah.”
“Ya sudahlah,Dek. Sabar  saja dulu kalau Mbakmu ini punya uang nanti dibayar.” Setelah mendengar perkataanku, wajah Lintang sumringah. Dia kemudian mengangguk-angguk. Itu membuatku lega, walaupun aku kebingungan darimana aku bisa mendapat uang yang banyak. Uang hasil jualan, mungkin tidak cukup untuk membayar buku sekolah adikku. Dan belum lagi, uang untuk membayar buku-buku sekolahku. Gaji ayah pun sudah dipakai untuk membayar keperluan keluarga dan makan. Habis, tak ada yang tersisa.
“Harus kerja apa aku? Ijazah SMA belum ada, UNAS pun harus tahun depan. Hasil jual gorengan nggak cukup. Apa aku harus jadi wanita penghibur yang sekali menemani om-om langsung dapat uang ratusan ribu? Apa mungkin?” Pikiran buruk itu, terkadang terselip di otakku. Segera mungkin aku menepisnya. Pikiran kotor dan tak bermoral tak layak hingap di pemikiranku. Bagaimana mungkin aku mengkhianati kesucian dari Tuhanku? Tidak. Aku tidak akan melakukan hal bodoh yang merusak diriku sendiri. Aku tidak ingin setelah uang haram yang kudapat, neraka juga yang aku tempati nanti. NO!
“Heh, gue beli gorengan tiga ribu. Higenis nggak gorengan loe nih?” Suara Bram membuyarkan lamunanku tentang mencari pekerjaan yang cocok untukku. “Higenis lah, kalau nggak ya ngapain aku jual,” timpalku. “Cepetan bungkus gorengannya itu! Lama banget.” Gerutuan Bram membuat telingaku panas. Dasar nggak sabaran. Apa waktu nenekmu sakit, kamu juga akan bilang “Udah buruan sembuh,kalau kelamaan ya mati aja?” Apa begitu? Hahahaha
“Waduh,Mas. Rumahnya Mas bagus pisan ee….” Tiba-tiba Lintang memuji rumah Bram yang tadi sempat aku lewati saat menjajahkan gorengan. “Iyalah bagus,Lin. Nggak seperti rumahmu kan?” Mendengar itu hatiku juga semakin ingin mendaratkan tinjuanku ke mukanya, muka yang selalu kebanyakkan gaya. Sok kaya, Luh! Kataku dalam hati.
“Gorengannya udah kan? Jadi silahkan pulang, jangan kebanyakan ngomel, karena aku nggak ada uang receh untuk omelanmu. Dan mungkin rumahku jelek, tapi seenggaknya itu udah milik keluargaku sendiri. Bukan rumah kontrakkan kayak kamu. Makasih udah beli gorengan yang aku jual,” kataku sinis sambil menoreh senyum ke arahnya. Tanpa menjawab Bram berlalu. Tanpa berkata apapun dan dengan memasang wajah penuh kegarangan. Tidak salah jika aku menurunkan arogantnya dengan berkata itu. Predikat yang buruk, menjelekkan hidup orang lain tetapi belum tentu hidupnya sudah benar-benar baik.

****

Selesai menjual gorengan berkeliling dan mendapat upah lima ribu dari hasil jualan, aku dan Lintang pulang. Keringat kami sudah membuat badan dan hidung kami tidak nyaman. Gerah. Dan bau asam yang kami cium dari badan kami sendiri begitu tak sedap. Iiish, Bau! Namun aku begitu bangga dengan keringat yang menempel ini. Ya bangga dong, karena ini keringat dari hasilku berjuang untuk mendapatkan uang halal. Tidak mengemis, tidak menjual diri, walaupun sedang kesulitan dalam ekonomi. Kelas menengah bawah yang terhormat kan? Weeeeehhh.
“Mbak, lihat nenek itu!” kata Lintang sambil menunjuk seorang nenek yang sedang
berdiri meminta sedekah di depan warung bakso yang ramai pelanggan.
“Iya, memang ada apa dengan nenek itu?” jawabku.
“Jangan tanya,Mbak. Coba Mbak lihat dulu, nanti juga akan tahu kok.” Secara otomatis aku melihat dan mengamati nenek tua itu. Nenek tua dengan kaki pincang sehingga harus menggunakan tongkat untuk menyangga tubuhnya, juga untuk alat bantu saat berjalan. Ada rasa iba yang aku rasakan. Kemudian, aku melirik ke arah adikku,Lintang. Dia masih fokus mengamati gerak-gerik nenek tua. Bahkan tanpa berkedip loh. Hebatnya.
Apa? Bulshit!
Setelah mendapat uang dari penjual di warung bakso, nenek itu berjalan ke tempat selanjutnya. Anehnya, aku dan Lintang melihat nenek tua berjalan normal tanpa kesakitan serta tongkat yang aku kira membantunya berjalan, malah diangkat dan ditenteng. Gila. Oh, jadi tongkat dan balutan perban di kakinya hanya  menjadi faktor pendukung untuk mengemis? Yah, aksesoris tambahan untuk terlihat sekarat saat mengemis. Sudah tua, bau tanah, masih berbuat dosa. Hmm, maaf kata-kataku kasar sekali ya? Tetapi aku sangat geram melihat sandiwara nenek tua tersebut. Aku hanya berdoa yang baik-baik saja agar hidayah Tuhan didapat Si Nenek. Amin.
“Mbak, sudah tahu kan?” tanya Lintang kepadaku.
“Iya tahu,Dek. Jangan ditiru yang begituan, perbuatan itu tidak pernah diajarkan orangtua kita. Jadi jangan pernah menipu orang lain. Kita nggak sakit jadi untuk apa berpura-pura sakit, toh sama dengan kita berdoa minta sakit ke Tuhan. Ngerti kan?”
“Iya siap,Mbak!”
“Ayo kita cepat pulang, ibu sudah khawatir kalau kita pulang kesorean. Baumu juga
bau banget loh,Dek.” Aku tertawa kecil, kemudian kembali berjalan agak cepat agar bisa pulang dengan segera.
Hari ini, aku belajar melihat lebih dekat dengan kenyataan. Menemukan sebuah arti untuk hidupku sendiri. Apakah hidup adalah panggung sandiwara? Pertanyaan yang sudah bisa kupastikan jawabannya. Tanpa mengira-ngira dan tanpa menebak layaknya mengisi sebuah teka-teki silang. Hidup adalah kenyataan, dan sandiwara hanya sebagai rintangan.

Maka jangan bersandiwara di hidupmu, tetapi nyatalah dalam hidupmu. Dan seperti itulah aku menjalani kenyataan yang nyata di hidupku. Nyata lebih baik daripada sandiwara busuk yang dapat menurunkan martabat dan harga diri.

*) Pelajar di SMAN 2 Jombang

Check Also

Ikan

Alib Syah Zanki *) Di suatu waktu, dari jendela Ku lihat ikan-ikan berenang kesana-kemari Apakah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!