Breaking News
Foto : Joice Adelien Manoppo menyerahkan buku tabungan anggota Bank Sampah Jombang. (rahmat)
Foto : Joice Adelien Manoppo menyerahkan buku tabungan anggota Bank Sampah Jombang. (rahmat)

Desainer Baju Anorganik

Reporter : chicilia risca

JOMBANG, MSP – Kecintaan terhadap membaca, memberikan ruang kesempatan bagi seorang ibu rumah tangga ini untuk berpraktik mengenai karya seni yang berkembang dari tahun 2010. Ketertarikan terhadap kata ‘daur ulang’, membuat Joice Adelien Manoppo mencari informasi dari berbagai sumber tentang pengertiannya. Mulai dari membeli buku yang berkaitan dengan daur ulang sampai membaca informasi di internet. Tergeraklah mengekpresikan nilai seni dari plastik sampah melalui karya tas, tikar serta pernik perlengkapan lainnya.

Pemanfaatan akan sampah organik dan anorganik sangat marak dikembangkan oleh beberapa komunitas di berbagai wilayah Indonesia bahkan dunia. Hal tersebut juga tumbuh secara perlahan namun pasti di Kabupaten Jombang tepatnya di Desa Geneng hingga terciptalah bank sampah desa. Bermula pada lomba tingkat Rukun Warga (RW) se Kecamatan Jombang, kemudian ia berinisiatif untuk menampilkan karyanya dalam ajang tersebut. Setelah lomba usai, karyanya mampu mempesona seluruh perkumpulan RW. Joice sapaan akrab baginya diminta berbagi keterampilan bersama ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Geneng.

“Berawal dari lomba antar RW yang secara kebetulan menjadi perwakilan kabupaten dalam lomba penilaian karya ibu PKK tingkat RW di lingkungan dengan mempertunjukkan karya kerajinan, barulah disitu saya menampilkan hasil tangan saya selama ini untuk yang pertama kali,” ungkap Joice Adelien Manoppo.

Kecintaan akan karya seni dari hasil daur ulang berkembang hingga terdengar oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang, yang kemudian terjalin kerjasama untuk berbagi melalui pelatihan. Pelatihan secara gratis dikelola di tempat pusat bank sampah DLH yang rutin setiap hari sabtu dengan periode satu minggu sekali. Berjumlah 10 sampai 15 orang dalam satu tahap pelatihan. Semua latar belakang profesi bergabung dalam penyajian materi pelatihan, penuh semangat belajar tinggi hingga mampu leburkan semua kesulitan. Peserta dominasi oleh ibu rumah tangga serta pembina adiwiyata sekolah di beberapa jenjang.

Perempuan kelahiran Manado ini menjelaskan, “Kami menyediakan pelatihan secara gratis, namun dengan syarat harus membawa bahan secara mandiri, jika tidak memiliki maka bisa mengambil dari kami dengan mengganti biaya Rp 10 ribu untuk satu karya dompet ukuran kecil. Saya juga mengajarkan hingga bahan anyam selesai siap pakai, karena sebelumnya hanya menganyam tidak sampai pada pemasangan furing dan jahit.”

Karyanya berkembang melalui kesabaran serta ketelatenan terhadap segala detail lipatan dari bungkus plastik. Setelah mencoba membuat tas, dompet dan tikar, ibu tiga orang anak ini merasa ingin berkembang lagi, yang kemudian ia tergerak membuat baju. Kini desain bajunya menjadi idaman bagi setiap penampilan fashion show hasil pemanfaatan karya anorganik di berbagai tingkat.

Terdapat kendala setelah berkembangnya budidaya sampah anorganik, yaitu bahan anorganik yang menjadi hal utama pembuatan karya. Kemudian tercetuslah pembuatan bank sampah di lingkungan RT/RW 04/08 Desa Genengan. Dengan mengumumkan kepada seluruh ibu rumah tangga agar mengumpulkan bungkus minuman kemasan plastik, sabun dan makanan ringan siap saji. Kemudian tergerak untuk semakin berkembang serta dikenal oleh masyarakat luas, melalui pembuatan papan nama “Bank Sampah Karya Mandiri” dengan pembukaan resmi pada 18 Maret 2011.

“Kata dari ‘bank sampah karya mandiri’ memiliki sejarah bagi kami, karena secara mandiri dan swadaya masyarakat merintis hingga mampu berkembang tanpa meminta bantuan dana dari pihak pemerintah,” jelas perempuan yang sudah 21 tahun tinggal di Jombang ini.

Perempuan berkacamata ini juga telah berbagi virus penyelamatan dunia dari pemanasan global, dengan mengisi seminar budidaya serta pemanfaatan sampah anorganik di berbagai daerah. Memanfaatkan celah serta kesempatan akan peluang untuk menerapkan terobosan terbaru dari sampah anorganik melalui sentuhan seni. Hingga pada tahun 2013 ia memperoleh penghargaan dari Ibu Kapolda Madiun.

Joice menginginkan jika terselenggara kembali lomba fashion karya daur ulang, agar tidak menggunakan sampah organik dan kantong plastik. Karena jika dalam pemanfaatannya tidak bertahan lama untuk bahan organik. Sedangkan kantong plastik pasti mempergunakan barang baru, hal ini menjadi koreksi yang dipertegas agar tidak lagi menggunakannya dalam pembuatan karya baju serta pernak-perniknya.

“Janganlah kita membuat kreasi yang nantinya akan menjadikan sampah kembali, namun memperlambat beredarnya sampah dan juga mengurangi,” tegasnya.

Kini karyanya mampu menembus pasar luar pulau Jawa, dengan peminat langganan Papua, Manado dan Batam. Pengiriman bervariasi jenis serta satuan harga, dan pengiriman tas termahal ialah Rp 350 ribu. Hasil karya bajunya juga untuk disewakan, mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp. 350 ribu.

Namun banyak dari penyewa yang enggan untuk mengembalikan karena terlanjur suka dengan model serta keelokan tampilan baju tersebut. Sehingga berujung untuk membelinya, dan harganya pun sesuai dengan periode serta model. Jika periode pembuatannya terbilang lama dipatok harga Rp 100 sampai Rp 200, tetapi jika merupakan model terbaru dan terumit desainnya, bisa mencapai Rp 1 juta atau lebih. n

Check Also

Foto : Irwan Prakoso saat menghadiri aksi bersepeda dan tanam pohon. (rahmat)

Gowes ke Kantor, Mengapa Tidak?

Reporter : fitrotul aini. JOMBANG, MSP – Kebijakan yang digulirkan oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!