Hujan Bermelodi di Bulan Desember

Aiku Hana*)

Pagi ini dengan ditemani angin sejuk dipagi hari, embun yang menempel di dedaunan dan bunyi burung-burung kecil yang menyambut indahnya pagi, aku mulai melakukan pemanasan, berlari mengelilingi gedung olahraga yang akan dijadikan sebagai tempatku berkompetisi. Ditemani dengan pelatihku aku berlari mengelilingi gedung selama kurang lebih lima kali. Saat ini aku bisa mencium aroma hujan tadi malam yang masih tersisa di sekitar halaman. Bahkan tanah ikut basah akibat hujan tersebut. Di sini, tepatnya aku berada di kota pahlawan, mencoba untuk mewujudkan impian pertamaku dengan senyuman.

Pertama kali dalam hidupku ketika aku merasakan arti sebuah perjuangan pantang menyerah, kerja keras dan saling memahami satu sama lain. Hari pertama ketika aku mengikuti kompetisi ini. Bahkan hal yang terjadi selama satu bulan yang lalu, aku melewatinya dengan begitu mudah. Aku melakukannya, latihan rutin, belajar split, belajar tendangan, belajar bertarung dan sebagainya. Aku tidak tahu kenapa aku harus memilihnya, ketika aku harus maju untuk menjadi seorang atlit taekwondo dikompetisi ini. Antara ragu dan sebuah kepastian di dalam hati, semuanya bercampur menjadi satu. Hanya saja ada beberapa hal yang sedang aku inginkan. Aku ingin berjuang untuk sekolahku, untuk teman-temanku dan untuk semua orang di sekelilingku. Itulah yang aku pikirkan saat ini.

Hari ini, sama seperti bulan Desember biasanya. Warna kelabu mulai menghiasai langit yang tadinya berwarna biru. Hal itu yang pertama kali aku lihat ketika mulai memasuki gedung pertandingan. Dari dalam penonton begitu antusias memadati kursi di dalam gedung. Hampir siang, dan pertandingan terakhirku berlangsung. Sama seperti ketika pagi tadi aku memasuki gelanggang pertandingan, siang ini aku begitu gugup. Kami terus saja menyerang satu sama lain, ronde pertama dan kedua terlewati dengan cepatnya. Kelelahan mulai menderaku termasuk juga lawan di depanku saat ini. Kami terus mengejar skor satu sama lain.

Dollyo chagi!” Suara pelatihku dari balik punggungku terdengar nyaring meskipun saat ini aku mengenakan pelindung kepala.

Aku melakukannya, dan satu poin muncul di layar monitor samping gelanggang. Tendangan yang sama pula mendarat ke arahku, diikuti dengan tendangan dwi chagi. Aku mulai membalasnya lagi dengan tendangan dollyo chagi secara beruntun dan menambah lagi skor di papan monitor. Tanpa diduga tendangan dwi hurigi mengenai kepalaku dan gadis di depanku mulai terengah-engah. Kepalaku merasakan pusing dan waktu pertandingan mulai berdetik dengan kerasnya menandakan pertandingan akan usai sebentar lagi. Kami sama-sama merasakan kelelahan yang mulai menyebar ke seluruh tubuh. Kepalaku bahkan terus merasakan pusing akibat tendangan gadis di depanku saat ini.

Tiba-tiba keadaan pusing ini membawaku pada kenangan yang dulu telah aku lupakan, saat ini mereka mulai terlintas di kepalaku, aku melihat dengan jelas setiap detik yang pernah aku lalui. Wajah ketiga temanku yang bahkan aku bingung harus menyebutnya sebagai sahabat atau teman.

“Ca, mungkin aku tidak akan mengikuti kegiatan taekwondo lagi. Jam lesku berpindah pada sore hari dan aku tidak bisa mengikuti latihan.”

“Bukankah kamu sudah berjanji akan terus mengikutinya? Bahkan kamu berjanji akan sampai pada sabuk hitam.” Jelasku pada Vina mencoba mengingatkan tentang hal yang pernah ia ucapkan dulu.

“Sekarang kita sudah kelas sebelas, aku harus fokus untuk belajar. Lalu apa yang akan kita lakukan jika sudah mendapatkan sabuk hitam?” Tanyanya padaku, aku mulai menyesal tidak dapat menjawab pertanyaannya saat itu juga. “Untuk apa kita mengikutinya bahkan kita tidak akan mengikuti kejuaraankan?” Lanjutnya padaku.

Aku hanya menangis di tengah lapangan basket ketika Vina mulai pergi, hanya udara sore yang berhembus menemani tangisanku saat itu. Aku mencoba menerima keadaan ketika aku tidak lagi bersama dengannya untuk selalu menemani sore hari bersama. Hanya kenangan indah yang pernah aku lewati bersamanya, ketika kami berlatih bersama dan berteriak dengan kencang, tae-kwon-do-tae-kwon-do. Mungkin ini saatnya aku harus melakukannya sendiri.

“Ca, kebahagiaan itu berasal dari sini.” Aku mengingat kata-kata Tya ketika dia memegang dadanya dan meyakinkan padaku tentang kekuatan. Atau sebuah kata-kata “Ca, kebahagiaan itu berasal dari hatimu.”

Benar, saat ini aku bahagia telah melaluinya sejauh ini. Bahkan aku mulai menyukainya. Aroma hujan mulai tercium di hidungku bahkan saat ini aku bisa mendengar suara rintikan hujan dengan jelas di luar sana.

“Ca, Fighting!”  Kata-kata dari Novi ketika ia selalu menemaniku berlatih dan memberiku semangat dengan mengepalkan tangan kanannya padaku. Hal yang selalu ingin aku ingat saat aku mulai putus asa.

Dia selalu menemaniku untuk berlatih disore hari meskipun udara panas menerpa.

Detikan waktu terus berlanjut, aku mencoba mempertahankan keseimbanganku. Berpikir bahwa semangat masih ada untukku aku terus memandang ke arah gadis di depanku yang siap untuk melakukan tendangannya. Hujan menemaniku saat ini ketika aku mulai merasakan apa yang akan aku lakukan disaat-saat terakhir pertandingan. Suaranya begitu nyaman di telingaku.

“Ca, ayo kamu pasti bisa!” Sebuah kalimat dari pelatihku mulai membangunkan pikiranku yang tadinya kosong.

Aku seperti terbangun dari tidurku dan mulai melakukan tendangan dwi hurigi pada gadis di depanku yang secara bersamaan juga menendangku dengan tendangan dollyo chagi. Tendanganku tepat mengenai kepala gadis itu, gadis di depanku terjatuh dan hitungan sang wasit pun dimulai.

“Hana, dul, set,..”

Berlanjut hingga berakhirnya hitungan, hening, dan gadis yang menjadi lawanku tidak dapat berdiri lagi. Aku berhasil memenangkannya. Tanganku diangkat oleh sang wasit yang berada di tengah gelanggang. Ya, aku memenangkan pertandingan ini. Tepukan meriah membawaku untuk berlari menuju pelatihku yang berdiri menungguku di samping gelanggang.

Aku berlari kearahnya dan memeluknya dengan erat, “Gamsahamnida.” Ucapku dengan tulus padanya.

Aku merasakannya, ia tersenyum di balik punggungku saat ini. Ini seperti bulan Desember biasanya, hanya saja sesuatu yang membuatku bahagia telah terjadi untuk saat ini. Untuk pertama kalinya aku merasakan arti sebuah kerja keras dari seorang juara. Aku merasakan aroma hujan di dalam gedung dengan diselimuti kebahagiaan. Ini seperti sebuah hujan dengan melodi indah yang menyelimutinya di penghujung tahun.

Daftar Kata :

Dollyo chagi                : Tendangan samping

Dwi chagi                    : Tendangan belakang

Dwi hurigi                   : Tendangan melingkar

Hana, dul, set              : Satu, dua, tiga,..

Gamsahamnida           : Terima kasih

*) Peserta Didik Kelas XI-A3, SMA Negeri Ploso

Check Also

Ikan

Alib Syah Zanki *) Di suatu waktu, dari jendela Ku lihat ikan-ikan berenang kesana-kemari Apakah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!