Mbah Kaseran (tengah) dan Sukardi (kiri) menunjukkan petilasan Ki Ageng Selok yang dipercaya juga memiliki kesaktian. (aditya)
Mbah Kaseran (tengah) dan Sukardi (kiri) menunjukkan petilasan Ki Ageng Selok yang dipercaya juga memiliki kesaktian. (aditya)

Jejak Pertarungan Kebo Kicak dan Surontanu

Reporter : aditya eko

KESAMBEN, MSP – Mitos keberadaan Kabupaten Jombang serta beberapa daerah yang dinaunginya konon tidak terlepas dari bekas pijakan yang dijejakkan Kebo Kicak ketika mengejar Surontanu (teman seperguruan di bawah asuhan Kiai Sumoyono, yang akhirnya menjadi musuhnya). Cerita ini berawal dari Joko Tulus yang merupakan putra Wandan Manguri, cicit Celeng Kecek (masih memiliki hubungan darah dengan kerajaan Mojopahit) yang berubah menjadi manusia berkepala hewan karena dikutuk buyutnya sembari mengobrak-abrik petilasannya.

Sebelum menjadi Kebo Kicak, Joko Tulus adalah sosok yang patuh pada ajaran Hindu saat itu. Dia terkenal sebagai pribadi yang berbudi luhur dan berilmu tinggi. Dia pun menyadari dan menyesali kelakuannya. Selepas kejadian itu, Kebo Kicak bertualang dan meguru kepada Kiai Sumoyono. Di padepokan itu, Kebo Kicak bergaul dengan Surontanu, seorang pemuda yang juga memiliki kedigdayaan ilmu seperti Kebo Kicak yang sakti mandraguna. Kedua sosok ini saling melengkapi selayaknya saudara yang saling membutuhkan satu sama lain.

Hingga pada suatu hari Kebo Kicak merasa sahabatnya itu, Surontanu, tidak lagi menghormatinya, bahkan menganggapnya lebih rendah. Jiwa liarnya muncul kembali dan lebih murka daripada waktu mengobrak-abrik makam buyutnya. Mengetahui kemarahan Kebo Kicak, Surontanu lari tanpa sepengetahuan sang guru. Begitu pula pengejaran Kebo Kicak terhadap Surontanu yang sudah diliputi amarah yang tak terbahasakan, tanpa pamit. Persaudaraan yang berbuah permusuhan tersebut yang akan mengguratkan tinta emas sejarah lahirnya Jombang serta desa-desa di dalamnya.

“Pertarungan antar Kebo Kicak dan Surontanu tidak dapat dihentikan. Mereka selalu bertarung dimanapun mereka bertemu. Bekas pijakan mereka diberi nama sesuai dengan latar peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan daerah atau tempat tersebut,” kata Mbah Kaseran warga asli Desa Kedungbetik.

Petarungan antar kedua sahabat tersebut sampailah di Desa Kedungbetik Kecamatan Kesamben. Terjadi pertempuran sengit pada kala itu. Menurut cerita Kaseran, Kebo Kicak sempat dikandangkan di area itu, yang sekarang menjadi nama salah satu dusun di Desa Kedungbetik yaitu Dusun Kandang Sapi.

Mbah yang lahir pada masa penjajah Jepang bercerita, “Itu dibuktikan dengan adanya tugu besar yang ada di area ini. Tugu besar itu dipergunakan untuk mengikat Kebo Kicak. Dahulu saya dan warga sering mendengar bunyi klontongan sapi (suara dari lonceng sapi) pada setiap malam Jumat Legi. Namun lambat laun tugu dan bunyi tersebut itu sudah tidak ada.”

Tidak hanya itu, Dusun Kandang Sapi pada masa penjajahan juga tidak bisa dianggap remeh. Konon saat masyarakat berlarian dikejar oleh Belanda dan bersembunyi di dusun ini, maka musuh tidak akan mengetahuinya. Terdapat juga petilasan Ki Ageng Selok yang dipercaya juga memiliki kesaktian, namun belum ada sumber yang dapat mengetahui tentang petilasan tersebut.

“Petilasan Ki Ageng Selok sudah ada pada saat Mbah Kunti babat alas dusun ini. Saya juga kurang mengerti siapa Ki Ageng Selok itu. Hanya saja menurut guru saya di pondok pesantren, beliau bukan orang sembarangan dan juga merupakan pejuang,” papar Kaseran.

Salah satu warga Dusun Kandang Sapi, Sukardi juga mengungkapkan bahwa nama Kandang Sapi pernah hampir diganti oleh Bupati Jombang, karena dirasa namanya kurang pantas untuk dijadikan nama suatu dusun. Namun warga menolaknya sebab banyak sejarah yang terkandung pada nama itu. Tiyas

Check Also

Monument Ringin Conthong. (aditya)

Monument Ringin Conthong Doelu Sekarang

Reporter : aditya eko JOMBANG – Salah satu ciri khas sebuah kota ditandai dengan bentuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!