Foto : Ilustrasi
Foto : Ilustrasi

Malaikat Memang Jahat

Karya: Indah Fatawiyah*)

Aku tertawa sendiri dijalan dari pemakaman.Siapa bilang Malaikat selalu baik ? justru malaikatlah yang selama ini bergerak memeras hak-hak kita tanpa kesadarannya. Dan aku adalah Malaikat yang membunuh kawanku perlahan-lahan dengan menambahinya kemiskinan, memakan dan membeli segala barang yang sebagian uangnya adalah hasil kerja tanpa tahu upahnya kuraup juga.

Mengenang flashback yang dimulai saat aku beberapa pekan lalu berjalan-jalan di sekitar desaku. Sampai kusempatkan terduduk di pinggir sawah menikmati tanah yang begitu luas membentang. Tiba-tiba seorang anak kecil berlari yang  mengagetkanku. Ia terduduk di sebelahku. Anak itu diam saja.

“Hai…!” tegurku. Dia melihatku dan tersenyum simpul.

“Sedang apa kau disini?”

“Menunggu Bapak” jawabnya lembut.

“Mana Bapakmu?”, “itu, yang memakai kaos merah yang sedang mencangkul” ujarnya sambil menunjukkan jari telunjuknya pada seorang lelaki di sawah saat itu.

Lalu ia merebahkan badannya dengan tangan yang ia letakkan di bawah kepalanya, tubuh mungil itu terbaring santai di atas rerumputan pinggiran sawah.

Ditengah obrolan ringan kami, Fendi menyela pembahasan topik siang ini dengan pertanyaan yang tak dapat kujawab.

“Mas Andre, malaikat itu baik nggak sih…?” tanyanya tiba-tiba. Aku terdiam dan mengerutkan dahi, pertanyaan yang cukup aneh sekali.

“Malaikat itu jahat, dia selalu makan awan …!” tambahnya.

Aku semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakannya, aku tercengang.

“Maksudnya apa…?”

“Malaikat selalu menghabiskan awan dan tak pernah membaginya pada manusia terutama aku dan Bapakku. Itu kenapa selama kau melihat awan, semakin pula ia menghilang atau berpindah kelain tempat, karena ia nasi yang tengah dimakan malaikat”. Lanjut Fendi.

Hingga kami bosan dan merasa lapar. Beberapa lembar uang kubawa untuk mengajak Fendi makan diwarung tegal yang terdekat. Dan setelah pulang dari warung, dia bilang bahwa nasi rawon tadi enak. Aku tertawa dalam hati, bagiku makanan semurah itu ndeso dan tidak ada apa-apanya dengan makanan favoritku d irestoran yang menyediakan makanan mewah resep luar negeri dari kokki terkemuka. Dan lagi, heran sekali mendengar rasa terimakasih Fendi, “makasih ya Mas, kamu bukan malaikat.”. Tak biasanya orang yang merasa tertolong tidak melabeli penolongnya sebagai “Malaikat”.

Anak berumur 12 tahun itu rupanya punya paradigma tingkat kasta yang mungin jika dalam ilmu sastra punya kiasan yang sungguh estetika. Dan aku pun masih menertawai khayalan Fendi yang ia campuri dalam derita hidup mengenaskan. Betapa tidak ? selain dengan khayalan monotonnya tentang Malaikat yang dianggapnya jahat, ternyata Fendi hampir setiap hari selalu kelaparan karena tidak ada nasi dirumahnya. Dia juga bilang, “aneh sekali, ayahku petani tapi kok nggak selalu sedia nasi ?!”

Masih kutelusuri kehidupannya, penasaranku terus menalar kondisi psikologisnya kenapa khayalannya begitu berbeda. Dan pada suatu siang yang terik Fendi mengajakku kerumahnya, kebetulan setelah kami bermain layang-layang bersama disekitar  persawahan, Fendi mengajakku minum dirumahnya. “Mas Andre haus nggak…? ikut
ke rumahku yuk…!” ajaknya setelah cukup lama merebahkan diri ditengah padang rumput yang terang. Sehingga aku langsung bangun dan menerima ajakannya.

Untuk pertama kali aku melihat rumahnya, aku tercengang, tegang, terdiam. Atap yang sudah bocor-bocor, dinding rumahnya yang sudah rapuh seolah-olah akan roboh, dengan ruang tamu yang kecil, satu ruang tengah sempit, satu ruang tidur dan sebuah dapur yang berdinding kayu bambu di belakang, ada sebuah sumur yang airnya kotor dan kamar mandi.

Ingat saat itu ia juga bercerita kalau Ibunya sudah lama pergi dari rumah dan lama tak pulang jua, lagi-lagi Fendi bilang Ibunya pergi karena ada malaikat yang jahat.

Sedikit ingin menertawai penderitaan ini. Betapa bersyukur aku yang masa kecilnya tak pedih seperti bocah aneh itu. Dan lagi-lagi dia membicarakan Malaikat yang katanya jahat dan tak mau memberinya nasi.

Banyak tawa bersama Fendi pula dihari-hari bersamanya, dia berceramah tadinya tentang mata pelajarannya disekolah, Pak Shobih menceritakan tentang sepuluh malaikat yang wajib diketahui beserta tugasnya. Dan betul pula tebakanku, Fendi menanggapi bahwa Malaikat terlalu egois dan hanya mau fokus pada satu tugas yang dipekerjakannya.

Siang-siang yang yang kujalani akhir pekan ini masih dipenuhi oleh kabut tentang Fendi. Bocah anti malaikat, kontra terhadap kebaikan malaikat. Pikirku, siapa malaikat itu ? apa ada yang dimaksudnya ? tapi anak kecil seusia Fendi hanya bisa menunjukkan karakter imajinatifnya, dan aku tidak yakin kalau dia bisa memberi kiasan kepada sesuatu atau membuat sebuah isyarat. Aku masih diam sembari mencabuti rumput-rumput kecil disekelilingku dan memandang Bapak Fendi yang masih bekerja di tengah sawah. Seketika, Pak Manan berdiri dan memegangi punggungnya yang telah daritadi membungkuk terus menggarap padi.

Sampai pada beberapa hari kemudian, anak kecil dengan penampilan kumuh yang kerap menyapaku seolah-olah tak mampu ku temui lagi. Aku masih berusaha mencarinya, entah dimana masalahnya, rumah dan penghuninya pun menghilang ditelan masa.

Sampai di jalan raya dan harus rela panas mentari di siang ini membakar tubuhku. Wegah pasti rasanya berada di tengah-tengah banyak orang dilengkapi bau badan para pejalan yang bercampur aduk, entah itu parfum, keringat, atau justru bau yang lebih menyengat dibanding tahi sapi. Mataku tajam memperhatikan semua arah, terlalu membingungkan bagiku bila anak kerdil itu menghilang dilahap suasana riuh sekitar daerah ini.  Sekelebat aku melihat seorang anak berbaju merah berlari diantara kerumunan orang yang berjalan di trotoar.

“Fendi …!!”, aku berlari dan mengejar kanak-kanak itu, tak peduli berapa orang yang kusingkirkan dari hadapanku. Akhirnya aku melihat ada penjual durian yang sedang berbincang-bincang dengan anak kecil. Fendi menoleh dan menghadapku.

“Mas Andre?” ujarnya lembut.

“Kamu ngapain disini? kemana saja kau?”

Fendi menatapku lekat-lekat, kemudian tersenyum padaku, hatiku merasa jengkel melihat tubuh yang kecil dan sorot mata bening, aku membungkukkan badanku. Ku lihat, tangannya membawa sebuah kaleng kecil. “Aku ingin durian ini ..!?” katanya dengan memegang salah satu durian agak besar di meja dagangan penjual durian. “Kapan-kapan saja belinya, ayo pulang ..!?” aku meraih tangannya dan menariknya. Namun, Fendi menarik tangannya dengan kasar dan berlari menjauhiku. “Fendi, nggak usah..!!” suaraku menjadi keras. Fendi menggelengkan kepala pertanda tak mengijinkan dirinya ikut denganku dan menginginkan durian itu.

Jujur saja, aku benar-benar menjadi orang dermawan meski saat hanya berteman dengan Fendi. Kukeluarkan beberapa lembar uang kertas dan langsung kubeli 2 buah durian yang besar dan harum saat dicium kulitnya. Dengan bangga dan lega, Fendi menenteng dua buah durian tersebut berlari menuju lapangan dekat persawahan.

Singkat cerita, inilah ending ceritaku bersama Fendi, aku duduk ketakutan di samping Pak Manan yang tengah berdzikir di atas sajadahnya. Setelah tiga hari yang lalu aku menyaksikan kematian Fendi, kini aku tengah duduk di samping orang terdekatnya. Agak gugup dan takut, karena belum ku kenal sama sekali dan tak pernah ada komunikasi. Tapi aku berusaha untuk mendekati ayah Fendi yang rupanya sikapnya aneh persis anaknya.(*)

Check Also

Ikan

Alib Syah Zanki *) Di suatu waktu, dari jendela Ku lihat ikan-ikan berenang kesana-kemari Apakah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!