Breaking News
Foto : Ketua MKKS Kabupaten Jombang, Karyono S.Pd, M.Si. (dokMSP)
Foto : Ketua MKKS Kabupaten Jombang, Karyono S.Pd, M.Si. (dokMSP)

Memberikan Jaminan Mutu Pendidikan Terhadap Masyarakat

Reporter : fakhruddin/aditya eko

JOMBANG, MSP – Keberadaan guru profesional sangatlah diperlukan di setiap sekolah. Hal itu ditujukan untuk mengikuti inovasi-inovasi baru pendidikan sesuai dengan perkembangan zaman. Di era modern ini, teknologi sangatlah cepat berkembang, sehingga guru sebagai pendidik harus memberikan metode-metode baru saat proses pembelajaran di dalam kelas.

Pengawas Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, Drs. Suhariyanto M.Si menambahkan, “Sebenarnya setiap harinya guru harus mampu menghadirkan inovasi baru dalam menyampaikan pelajaran kepada peserta didik, sebab di era generasi muda saat ini pembelajaran monoton akan menghadirkan kebosanan.”

Rendahnya minat baca seseoranglah yang menjadi kendala utama, sebab dengan membaca guru-guru akan mendapatkan pengetahuan akan update terbaru inovasi-inovasi apa saja yang cocok digunakan dalam pembelajarannya. Sehingga setiap harinya guru mampu mengembangkan kompetensi yang dimilikinya. Dengan menyediakan perpustakaan di ruang guru tersebut menjadi salah satu upaya yang dilakukan para pendidik dalam membiasakan membaca.

Beragam cara telah dilakukan pemerintah guna mendukung keberhasilan dalam menciptakan guru profesional. Salah satunya adalah pemberian Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) bagi seluruh pendidik yang telah memenuhi syarat, antara lain guru harus memenuhi jam mengajar minimal 24 jam hingga 40 jam belajar, memiliki nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) yang baik dan terpenting telah memiliki sertifikat mengajar atau sertifikasi dari serangkaian syarat tadi.

Selain itu soal UKG seharusnya disesuaikan dengan mata pelajaran yang ditempuh peserta. Terutama bagi guru peserta sertifikasi dari SMP, bagi guru mata pelajaran Fisika, Biologi dan Kimia tergabung pada IPA serta IPS di dalamnya terdapat Geografi, Ekonomi dan Sejarah, sehingga ketika guru mengerjakan salah satu mata pelajaran tersebut akan merasa sangat kesulitan dan akhirnya banyak diantara guru-guru mendapatkan nilai di bawah ketentuan.

Fungsi pendapatan TPP utamanya digunakan sebagai peningkatan kompetensi bagi guru. Salah satunya adalah menggunakan pendapatan tunjangan tersebut untuk membeli buku penunjang, laptop atau peralatan lain sebagai penunjang peningkatan kompetensi guru. Setidaknya dari hasil tunjangan, guru mampu menyediakan perpustakan pribadi di ruang kerja ataupun di rumah, serta mengikuti diklat-diklat tertentu dan mengikuti Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

Kepala sekolah profesional pun sangat penting untuk mendukung keberhasilan terhadap upaya-upaya pemerintah dalam membentuk guru yang berkompeten. Hal tersebut karena kepala sekolah harus berperan aktif, mengatur strategi, mengawasi dan melakukan tindak lanjut terhadap semua guru secara merata. Perbedaan karakter masing-masing guru, menjadi penyebab pengawasan harus dilakukan secara intens tetapi dengan cara yang baik dan benar.

“Secara umum guru pun dibedakan pada 4 kategori, yaitu pertama guru Drop Out (DO) merupakan guru yang abstraksinya rendah dan komitmennya pun rendah, kedua Analitical Observer berarti guru berabstraksi tinggi tetapi komitmen rendah, ketiga Unfocus Worker adalah abstraksinya sedang dengan komitmen tinggi, terakhir menjadi harapan seluruh masyarakat adalah guru profesional yakni guru berabstraksi tinggi dengan komitmen tinggi juga,” jelas pengawas asal Ngawi tersebut.

Karakter guru di Kabupaten Jombang pun mendominasi pada poin ke tiga, oleh sebab itu dengan dukungan kepala sekolah bersama stakeholder di sekolah, dalam hal ini saling terkait guna membentuk profesionalitas pendidikan dalam lingkungan sekolah. Hingga pada akhirnya jaminan mutu dari sekolah bisa tercapai dan memberikan kepercayaan kepada orangtua terhadap dunia pendidikan semakin tinggi.

Penggunaan tunjangan sertifikasi menjadi perhatian khusus masyarakat sampai menimbulkan berbagai komentar. Sebagian orang beranggapan, tunjangan sertifikasi guru hanya digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari atau konsumtif. Tetapi dari beberapa orang yang mengerti akan proses di dunia pendidikan setidaknya mampu memahami apa saja yang termasuk dalam kategori konsumtif dan tidak.

Bagi beberapa guru bertempat tinggal di desa memerlukan transportasi, sehingga dari sisa kebutuhan utama tadi guna memudahkan hal tersebut dibelikan kendaraan bermotor sebagai moda transportasi.

Ketua MKKS SMP Negeri se Kabupaten Jombang, Karyono S.Pd, M.Si menjelaskan, “Berkembangnya anggapan konsumtif masyarakat terhadap guru-guru bersertifikasi, adalah guru yang telah memenuhi kebutuhan mereka dalam menunjang kompetensi, dan masih terdapat sisa tabungan dari tunjangan tersebut tetapi dibelikan beberapa barang kebutuhan lain.”

Melihat dari kata konsumtif sendiri, tergantung pada pandangan masing-masing orang. Bagi mereka yang tidak tahu latar belakang masing-masing guru tersebut bagaimana, dengan mudahnya tuduhan-tuduhan seperti itu muncul. Sebagian orang tidak mengetahui upaya guru-guru lain yang benar-benar bekerja semestinya untuk mengabdi pada dunia pendidikan harus menjalani kehidupan mereka. Sering ditemui guru mencari aktifitas lain sebagai tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Tingkat konsumtif setiap guru pun berbeda. Dapat dilihat dari kebiasaan pendidik ketika berada di sekolah dan di mana tempat tinggalnya. Bagi guru yang hidup di lingkungan pedesaan, diharapkan mampu menjadi figur percontohan bagi masyarakat. Tidak serta-merta menghabiskan hasil tunjangannya, sebab bisa mengakibatkan kecemburuan sosial dan menghindari timbulnya komentar-komentar miring mengenai guru.

“Memang tidak menampik jika terdapat guru yang mengutamakan kebutuhan konsumtif terlebih dahulu, tetapi saya sangat menentang hal tersebut. Bersama kepala sekolah lain, kami berkomitmen untuk menghimbau kepada pendidik guna mendahulukan kebutuhan dalam meningkatkan mutu pendidikan di lingkup sekolah mereka masing-masing,” kekeh Karyono.

Selaku sesama penggiat pendidikan, kepada guru-guru di sekolahnya Karyono selalu menanamkan pemikiran tanggung jawab bersama atas apa yang didapat guru dari TPP tersebut. Setelah menerima tunjangan pun monitoring selalu dilakukan, supaya para guru menyisihkan uang tunjangannya untuk kepentingan pendidikan. Tidak hanya kesejahteraan guru saja yang naik tetapi kompetensi dalam menjalani profesi sebagai pendidik juga harus ikut meningkat.

Pada akhirnya dapat dilihat dari beberapa tahun terakhir, perlahan tapi pasti meningkatnya kesejahteraan guru memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan. Awalnya guru tidak mau mengajar minimal selama 24 jam sekarang banyak guru yang telah menempuh jam mengajar tersebut. Ditambah semakin lengkapnya perlengkapan penunjang pembelajaran, membuat guru semakin nyaman dalam menyampaikan pelajaran. Tiyas

Check Also

Foto : Ketua MKKS, Karyono, S.Pd, M.Si. (fakhruddin)

Perpres PPK Redam 5 Hari Sekolah

Reporter : fakhruddin TEMBELANG, MSP – Menengok beberapa bulan lalu, dunia pendidikan dikejutkan oleh keputusan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!