Foto Ilustrasi : .net
Foto Ilustrasi : .net

Menangkal Penggerogotan Pancasila

Rahmat Sularso Nh. *)

Sunyinya gaung Pancasila sudah menjadi hal klasik. Terlebih lagi bila dibandingkan dengan generasi muda di tahun 1980 sampai 1990-an, Pancasila serasa makanan sehari-hari saat itu. Bagaimana tidak, saban malam ba’da Isyak asupan terkait ideologi bangsa Indonesia tersebut terus diberikan kepada masyarakat. Tidak memandang usia maupun latar belakang sosial, seluruhnya menerima pemahaman dan pengejawantahan Pancasila berikut dengan butir di setiap silanya.

Istilah bekennya adalah Penataran, Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila (P4). Kala itu maksud dan tujuan Presiden Soehrto tidak lain ialah menyelaraskan pemikiran seluruh elemen lapisan masyarakat ke Pancasila. Sehingga kekuatan dalam menumbuhkan Wawasan Wiyatamandala (sekarang menjadi Wawasan Kebangsaan) benar-benar solit. Segala bentuk ancaman terhadap bangsa Indonesia mampu dengan sendirinya ditangkis oleh keseurapaan pandangan hidup bernegara. Baik berupa teror, ancaman, ajaran menyesatkan, politik adu domba dan serangkaoan paham yang bertentangan dengan asas dan falsafah Indonesia.

Disamping itu, seluruh peserta P4 wajib menghafal UUD 1945 secara tekstualnya. Berikutnya baru mendalami makna yang terkandung sebagai pendukung interpretasi Pancasila. Walaupun wujudnya menyerupai doktrin ideologi tapi berhasil menagkal segala bentuk wabah yang memecahbelah keanekaragaman perbedaan. Dari suka, bahasa, ras, kebudayaan dan lain sebagainya.

Memasuki era reformasi, tiba-tiba menjadi senyap. Masyarakat menyambut penuh uforia kebebasan dalam segala keadaan. Dalam berpikir, berpendapat, serta berorganisasi semua mempunyai kedudukan yang sama. Pancasila mulai ditinggalkan sendiri, hadir hanya pada kegiatan peringatan dan penghias belaka. Sementara arus perkembangan yang terus melaju tiada dapat membendung pula arus kebebasan.

Letupan krisis sosial mulai banyak terjadi khususnya di daerah. Adanya keinginan berdiri menjadi negara sendiri, pertikaian antar suka bangsa hingga menimbulkan pertumpahan darah kerap terjadi, terlebih hanya karena perbedaan pendapat antar individu maupun kelompak rela beradu fisik demi satu tujuan diakui sebagai pemenang.

Terbaru semakin merebaknya paham radikalisme yang menolak adanya Pancasila. Merekrut generasi produktif dan kaum intelektualias yang kalau dinalar sangat jauh untuk menjadi korban perekrutan. Sehingga bisa dipastikan bahwa kemampuan membangun sugesti serta merasionalisasikan paham radikalisme terbilang hebat sehingga bagi korban yang jauh dari dugaan pun dapat terpengaruh. Sempadan merelakan menjalankan segala kegiatan mengorbankan dirinya atau merugikan orang lain.

Kondisi ini membuktikan sedikit banyak lunturnya nilai-nilai Pancasila didalam hayat masyarakat, membuat pelbagai ideologi yang bertolakbelakang dari falsafah kebangsaan Pancasila mudah masuk dan menyebar dengan cepat. Kemunculan teror mengatasnamakan pemahaman ideologi tertentu semakin banyak. Menimbulkan kecemasan maupun kekhawatiran di khalayak. Apalagi hingga teror yang memakan korban jiwa.

Kemilai perkembangan zaman semakin menindih Pancasila di bagian terdalam kehidupan. Seolah sudah tiada dibutuhkan sehingga tanpa disadari ada upaya penggerogotan tentang pandangan bertata negara yang seharusnya sesuai dengan lima sila tersebut. Seakan menjadi boom waktu yang siap meledak jikalau estimasi hitungan habis.

Gagap Berpancasila

Sontak serangkaian persitiwa yang terindikasi menjadi ancaman mulai dipandang serius. Bukan lagi penumpasan dari luar, melaingkan penguatan kedalam. Mengenalkan, menumbuhkan, dan mengembangkan generasi yang secara sungguhnya memiliki cakrawala Pancasila.

Meski terbilang terlambat serta tantangannya bukan semudah membalikan telapak tangan, namun masih ada keyakinan apabila pasti ada yang membekas terkait Pancasila. Akhirnya sekolah menjelma sebagai ‘Kawah Candradimuka’ dalam mempersiapkan out put berideologi Pancasila.

Kurikulum mulai disesuai, metode pengajaran di kelas lebih mengarah kepada kebutuhan memasukan ideologi Pancasila, dan ada ukuran yang menjadi acuan seberapa jauh sudah melarung di peserta didik.

Sementara itu diketahui bilamana tantangan yang dihadapi adalah laju arus perkembangan global, menyasar di seluruh lapisan kehiduapan. Tidak luput di lingkungan peseta didik, derasnya informasi yang diterima khususnya ala daring (Dalam Jaringan) harus mempunyai kemampuan memilih maupun memiliah dengan baik. Keterbukaan informasi termasuk pemahaman di luar Pancasila mampu didapatkan dengan mudah. Ditambah keberadaan sosial media semakin membuka kran informasi dengan begitu pekatnya.

Pancasila memiliki kedudukan sebagai filter tepat, sehingga mencegah kontaminasi terhadap pemikiran yang merusak cara pandangan bertatanegaraan. Sekarang tianggal melihat hasilnya, mampukan sekolah menjadi wadah menempa paham Pancasilais ke peserta didik. Walaupun masih belum bisa dirasakan dalam kurun waktu dekat, kepastiannya bisa dilihat sejauh mana kemampuan menolak segala bentuk penggerogotan Pancasila.

*) Pemimpin Redaksi Majalah Suara Pendidikan.

Check Also

dr. Ita Supranata

Waspada…! Bahaya Kerja Berlebihan

Oleh : dr. Ita Supranata*) JOMBANG, MSP – Sesuatu yang dilakukan secara berlebihan tidak baik …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!