MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS XI IPS 2 MAN GENUKWATU DENGAN PUISI ACROSTIC

Rosi Anjarwati

STKIP PGRI Jombang

Abstrak : Selama proses pembelajaran Bahasa Inggris dikelas XI IPS 2 MAN Genukwatu, peneliti menemukan adanya permasalahan dalam keterampilan berbicara yang dihadapi oleh guru dan siswa. Permasalahan tersebut berkenaan dengan terbatasnya kosakata yang dapat dipergunakan siswa saat berbicara dan kegiatan mengajar guru yang monoton. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan menggunakan puisi Acrostic yang dapat mempermudah siswa mengungkapkan ide mereka secara lisan melalui kegiatan yang menyenangkan. Hasil yang didapat dari tes berbicara dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berbicara setelah siswa belajar berbicara menggunakan puisi Acrostic. Selain itu, partisipasi siswa yang didapat dari hasil observasi dan kuesioner juga menunjukkan hasil yang positif.

Kata kunci :  Berbicara, puisi Acrostic.

Abstrak : During the teaching and learning process of English in XI IPS 2 MAN Genukwatu, the researcher found that there was a problem faced by both teacher and students. This problem appeared due to the limitation of students’ vocabulary and the teacher’s teaching method which was monotonous. This classroom action research tried to solve the problem by using Acrostic poetry that can make the students easier in delivering their idea orally through enjoyable activity. The result of speaking test showed that the student’s speaking skill is improved. Moreover, the students’ participation which was got from observation and questionnaire also showed positive result.

Keywords : Speaking, Acrostic poem.

A. PENDAHULUAN

Mata Pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan di tingkat  Sekolah Menengah Atas (SMA/MA) bertujuan untuk membuat siswa mampu berkomunikasi dan mengembangkan keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Dari keempat keterampilan berbahasa tersebut, keterampilan berbicara sering kali terabaikan dari fokus pengajaran dikelas karena tidak diujikan di Ujian Nasional.

Keterampilan berbicara Bahasa Inggris adalah salah satu keterampilan yang seringkali dijadikan indikator kemahiran seseorang dalam berbahasa karena berbicara adalah interaksi yang penuh makna. Luoma (2004:20) menyataka bahwa setiap pelaku adalah pembicara dan pendengar; mereka membentuk even secara bersama-sama dan dapat mempengaruhi hasil dari interaksi tersebut. Dari pernyataan tersebut  berbicara adalah sebuah proses interaktif dalam membentuk makna yang menempati proses memberi dan menerima informasi.

Meskipun  keterampilan berbicara adalah keterampilan yang krusial dan harus dikuasai oleh siswa sebagai pembelajar Bahasa Inggris, pada kenyataannya banyak siswa yang belum bisa menguasainya dengan baik. Hal ini juga terjadi dikelas XI IPS 2 MAN Genukwatu Ngoro Jombang dimana peneliti menemukan rendahnya kemampuan siswa dalam keterampilan berbicara. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti, permasalahan tersebut bersumber dari terbatasnya kosakata yang diketahui siswa sehingga menghambat mereka dalam menyampaikan gagasan secara lisan. Disamping itu, para siswa merasa bosan dengan strategi mengajar guru dalam keterampilan berbicara yang cenderung menggunakan strategi yang sama.

Berdasarkan kondisi tersebut diatas, guru di MAN Genukwatu telah berusaha menerapkan beberapa strategi pengajaran untuk mengatasi permasalahan tersebut. Walaupun demikian, keterampilan berbicara siswa masih belum mengalami peningkatan. Dalam penelitian ini peneliti ingin menerapkan karya sastra sebagai sarana untuk mengatasi permasalahan dalam berbicara yang dihadapi siswa, yaitu melalui puisi Acrostic.  Menurut Murdibjono (2012:6), Sastra memiliki beberapa kelebihan ketika diterapkan dalam pengajaran Bahasa Inggris ; diantaranya adalah dapat melibatkan dan memotivasi siswa serta mudah diingat. Selain itu juga dapat menghadirkan kesempatan belajar pronouniation, vocabulary, grammar, serta keempat keterampilan berbahasa.

Puisi Acrostic adalah sebuah puisi dimana setiap huruf dari masing-masing baris ditulis secara vertikal untuk membentuk sebuah kata. Kata tersebut seringkali merupakan subyek dari puisi. (Murdibjono, 2012: 10). Peneliti yakin bahwa puisi ini dapat diterapkan sebagai sarana mengungkapkan ide dalam berbicara terutama dalam ungkapan cinta, sakit dan lega. Melalui puisi ini para siswa dapat memperkaya kosakata mereka dengan cara yang sederhana yaitu dengan meneruskan huruf depan pada setiap baris. Terlebih lagi, kegiatan ini akan membuat siswa merasa lebih rileks dalam mempelajari Bahasa Inggris.

Berdasarkan pemaparan diatas, penelitian ini menyajikan sebuah aktivitas pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan karya sastra yaitu puisi untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa.

B. LANDASAN TEORI

a. Pengertian Berbicara

Berbicara adalah sebuah aktivitas produktif yang selalu dilakukan oleh manusia karena manusia butuh berkomunikasi dengan manusia yang lain. Brown (2000:267) menyatakan bahwa ketika seseorang dapat berbicara sebuah bahasa itu berarti orang tersebut dapat membawa percakapan secara masuk akal. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa berbicara adalah salah satu elemen dalam berkomunikasi. Dimana komunikasi adalah hasil dari proses pengungkapan gagasan pembicara.

Ada beberapa aspek dalam berbicara yaitu pelafalan (pronounciation), kosakata (vocabulary),  tata bahasa (grammar),  kelancaran (fluency) serta pemahaman (comprehension). Kelima aspek ini sangat berperan penting dalam proses berbicara seperti yang diungkapkan oleh Nunan dalam lawtie (2004:1) bahwa keberhasilan berbicara diukur dari kemampuan seseorang untuk meneruskan percakapan  dalam bahasa sasaran.  Selain itu Brown (2000:271) menambahkan dalam mengajarkan komunikasi oral, keterampilan mikro sangatlah penting. Keterampilan mikro tersebut diantaranya menghasilkan penggalan bahasa dalam durasi yang berbeda, menghasilkan pola bunyi dalam Bahasa Inggris, menggunakan sejumlah kata yang cukup untuk mencapai tujuan, menggunakan mimik wajah dan bahasa tubuh bersamaan dengan bahasa verbal untuk menyampaikan makna, dll.  Salah satu penerapannya adalah tidak hanya fokus pada bentuk bahasa tetapi juga  fungsi bahasa.

b. Menggunakan Sastra dalam Pengajaran Bahasa

Sastra menurut Sumardjo (1994:1), sastra adalah karya sastra dan kegiatan seni yang berhubungan dengan ekspresi dan penciptaan. Dalam seni banyak unsure kemanusiaan yang masuk, khususnya perasaan. Sastra memiliki peran sangat fundamental dalam pendidikan karena karya sastra pada dasarnya membicarakan berbagai nilai hidup dan kehidupan yang berkaitan langsung dengan pembentukkan karakter manusia.

Nurgiyantoro (2005:35) menyatakan bahwa sastra diyakini memiliki kontribusi yang besar bagi perkembangan kepribadian anak dalam proses menuju kedewasaan sebagai manusia yang memiliki jati diri. Sastra  juga diyakini dapat dipergunakan sebagai sarana untuk menanamkan , memupuk serta mengembangkan nilai-nilai yang diangap baik oleh keluarga, masyarakat dan bangsa . Menurut (Oemarjati, 1992), Pengajaran sastra pada dasarnya mengemban misi efektif, yaitu memperkaya pengalaman siswa dan menjadikannya lebih tanggap terhadap peristiwa-peristiwa di sekelilingnya. Tujuan akhirnya adalah menanam, menumbuhkan, dan mengembangkan kepekaan terhadap masalah-masalah manusiawi, pengenalan dan rasa hormatnya terhadap tata nilai, baik dalam konteks individual, maupun sosial.

Salah satu bentuk sastra adalah puisi. Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata – kata kias atau imajinatif (Waluyo, 2005: 1). Meskipun bentuk puisi yang singkat, puisi memiliki kekuatan didalamnya.  Puisi adalah susunan kata-kata yang dipilih dan dirangkai untuk menimbulkan efek dan daya sentuh, tentunya dengan maksud yang lebih luas. Kata-kata atau lebih luas lagi bahasa, sesungguhnya memiliki kekuatan- kekuatan, daya pukau, dan daya sentuh yang luar biasa. Kekuatan-kekuatan inilah yang dieksplorasi penyair untuk mengungkapkan maksud dan gagasannya agar dapat menyentuh perasaan, imajinasi, dan pikiran pembacanya.

c. Manfaat Pengajaran Sastra

Pengajaran sastra direncanakan untuk melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Saat pengajaran berlangsung siswa harus diikutsertakan dalam pemecahan masalah sehingga siswa menjadi lebih aktif dan kreatif, sehingga siswa dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. Rahmanto (1988: 16) menyatakan bahwa pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu: membantu ketrampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, pengembangan cipta dan rasa, dan penunjang pembentukan watak.

Penggunaan puisi dalam pengajaran Bahasa Inggris memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah sifatnya yang universal yaitu semua bahasa memiliki bentuk sastra ini. Selain itu, puisi juga dapat memotivati siswa untuk lebih terlibat dalam bahasa yang sedang dipelajari. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan pengalaman pribadi siswa sebagai sumber inspirasi penyusunan puisi.

Menurut Hadeway, et al dalam Murdibjono (2012: 6) penggunaan puisi dalam pengajaran Bahasa Inggris memiliki beberapa manfaat. Manfaat tersebut diantaranya: (1) membaca dan membaca nyaring menumbuhkan kecakapan berbahasa, (2) baris puisi yang pendek dapat menarik pembaca, (3) menyajikan sumber  karakter, seting, dan cerita yang singkat namun kuat serta (4) merupakan karya sastra terdahulu.  Berdasarkan manfaat-manfaat yang dipaparkan diatas puisi juga dapat menjadi teks otentik yang dapat membuat siswa lebih mencintai Bahasa Inggris.

d. Puisi Acrostic dalam Pengajaran Keterampilan Berbicara

Puisi Acrostic adalah salah satu jenis puisi sederhana. Puisi arkostik biasanya membicarakan apa yang menjadi susunan huruf yang membentuk sebuah kalimat di awal baris menggunakan huruf dalam sebuah kata untuk memulai setiap baris dalam puisi, semua baris dalam puisi menceritakan atau mendeskripsikan topik kata yang penting. ( Kartini, 2011: 5) Siswa akan lebih mudah menyusun kata – kata dalam puisi arkostik karena sudah ada rangsangan sebelumnya dari huruf awal yang disusun secara vertikal dan membentuk kata.

Maher (1982:18) mengungkapkan bahwa puisi bisa dimaksimalkan untuk mengajarkan keempat keterampilan berbahasa. Pada keterampilan membaca (reading) puisi memungkinkan siswa untuk melakukan pemahaman terhadap isi, menginterpretasikan serta merasakannya. Puisi juga dapat diterapkan dalam keterampilan menulis (writing) meskipun dibutuhkan kemampuan pemilihan kata yang cukup sulit namun kegiatan ini bisa menyenangkan. Selain kedua keterampilan diatas, puisi juga dapat diterapkan dalam pengajaran keterampilan berbicara dan mendengar.

Dalam pengajaran keterampilan berbicara, puisi Acrostic berfungsi sebagai sarana menuangkan ide atau gagasan mengungkapkan perasaan cinta (love),  sakit (pain)  dan lega (relief).  Guru mempunyai peranan yang penting dalam pengajaran puisi. Di sini, guru dapat membantu atau mungkin menghambat ketertarikan siswa pada puisi. Jika guru lebih banyak memberikan teori dan mekanisme dan tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk menulis puisi mereka sendiri maka anak yang tadinya berbakat atau yang mempunyai perhatian pada puisi menjadi tidak tertarik dengan puisi.

Menerapkan puisi Acrostic  dalam pengajaran juga berarti melibatkan siswa secara aktif dalam prosesnya. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Brown (2000: 67). Menurut Brown siswa perlu dilibatkan panca inderanya. Kegiatan yang dilakukan dalam kelas hendaknya bersifat visual (dapat dilihat) dan audio (dapat didengar) oleh siswa.

Terdapat empat tahap yang digunakan dalam penerapan puisi Acrostic  sebagai sarana untuk mengembangkan keterampilan berbicara. Tahap-tahap tersebut adalah tahap pengenalan, tahap penyusunan, tahap pemaparan dan tahap interaksi.  Masing-masing tahap dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa atau kompetensi yang ingin dicapai.

C. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan dua silkus.  Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru dan guru Bahasa Inggris berperan sebagai pengamat (observer). Masing-masing siklus meliputi planning (perencanaan), implementing (penerapan), observing (pengamatan) dan reflecting (refleksi).  Peneliti menemukan bahwa siswa kelas XI IPS 2 MAN Genukwatu Ngoro Jombang memiliki permasalahan dalam keterampilan berbicara. Berdasarkan kuesioner yang diberikan pada studi pendahuluan, para siswa mengalami kesulitan dalam mengungkapkan ide menggunakan kosakata yang tepat dan merangkai kata menjadi kalimat untuk mendeskripsikan sesuatu.

Penelitian ini dianggap berhasil apabila ≥75 % siswa kelas XI IPS2 MAN Genukwatu mencapai nilai KKM yaitu 75 atau lebih dan respon siswa dari hasil kuesioner ≥ 70%.

Peneliti menerapkan puisi Acrostic dalam penelitian tindakan kelas ini. Puisi Acrostic digunakan dalam membuat draft ungkapan cinta (love),  sakit (pain)  dan lega (relief). Terdapat empat tahap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan puisi Acrostic,  yaitu tahap pengenalan, tahap penyusunan, tahap pemaparan dan tahap interaksi.

Pada tahap pengenalan, guru mendiskusikan berbagai ungkapan ungkapan cinta (love),  sakit (pain)  dan lega (relief) dengan siswa. Setelah itu guru membimbing siswa untuk melafalkan ungkapan-ungkapan tersebut secara tepat. Kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan puisi Acrostic.

Pada tahap kedua, siswa diminta untuk menulis sebuah kata secara vertikal yang merupakan subyek dari puisi Acrostic yang akan dideskripsikan menggunakan ungkapan ungkapan cinta (love),  sakit (pain)  dan lega (relief). Tahap selanjutnya adalah pemaparan. Pada tahap ini masing-masing siswa membacakan puisi Acrostic  mereka secara bergantian dalam sebuah kelompok yang terdiri dari 4-5 orang. Setelah membacakan, siswa menjelaskan alas an memilih subyek puisi tersebut.

Tahap terakhir adalah tahap interaksi. Para siswa dapat mengajukan pertanyaan atau komentar terhadap puisi Acrostic yang telah dibacakan oleh siswa yang lain. Dalam tahap ini, guru juga akan menunjuk beberapa siswa untuk membacakan puisi mereka dan siswa yang lain dapat berkomentar ataupun mengajukan pertanyaan.

D. HASIL PENELITIAN

a. Siklus I

Pada siklus pertama hasil tes berbicara menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berbicara siswa ketika dibandingkan dengan hasil pre-tes studi pendahuluan (preliminary study).  Hasil pre-tes pada studi pendahuluan menunjukkan 56% (14 siswa)  mendapatkan nilai ≥75 sedangkan pada hasil tes disiklus pertama terdapat  68 % (17 siswa) mendapatkan nilai ≥75. Dalam hali ini, kriteria keberhasilan belum tercapai karena indicator pencapaian belum mencapai 75%.  Ketidakberhasilan ini disebabkan beberapa siswa cenderung membentuk kelompok dengan teman yang dekat dengan mereka sehingga proses pada tahap pemaparan dan interaksi tidak bisa maksimal.

Respon siswa dari hasil  analisis kuesioner menunjukkan informasi sebagai berikut: (1) 67% siswa merasa tertarik saat guru menjelaskan puisi Acrostic; (2) 80% siswa merasa lebih mudah mengungkapkan ide secara lisan menggunakan puisi Acrostic; (3) 69% siswa merasa senang dalam kegiatan berbicara menggunakan puisi Acrostic. Berdasarkan hasil tersebut diatas, penelitian ini belum berhasil dari segi respon siswa karena criteria keberhasilannya adalah ≥70%.

b. Siklus II

Menindaklanjuti refleksi pada siklus pertama, maka perlu dilakukan beberapa tindakan penyempurnaan. Berdasarkan hasil pengamatan, siswa cenderung kurang serius ketika melakukan tahap pemaparan dan interaksi karena mereka berada dalam satu kelompok yang terdiri dari teman dekat mereka sendiri. Sehingga pada siklus kedua pemilihan kelompok ditentukan oleh guru dan bersifat heterogen, dimana dalam satu kelompok terdapat siswa dengan tingkat kemampuan Bahasa Inggris yang beragam.

Hasil tes berbicara pada siklus II menunjukkan bahwa 80% (20 siswa dai 25) mendapatkan nilai 75 atau lebih  dengan rincian 14 siswa memperoleh nilai 75, 3 siswa memperoleh 77 dan 3 siswa memperoleh nilai 80. Hasil tes berbicara diatas menunjukkan adanya peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 dan kriteria keberhasilan yang pertama telah tercapai yaitu  ≥75 % siswa kelas XI IPS2 MAN Genukwatu mencapai nilai KKM yaitu 75 atau lebih.

Hasil respon siswa yang didapat dari kuesioner juga menunjukkan hasil yang positif, diantaranya: (1) 74% siswa merasa tertarik saat guru menjelaskan puisi Acrostic; (2) 85% siswa merasa lebih mudah mengungkapkan ide secara lisan menggunakan puisi Acrostic; dan (3) 78% siswa merasa senang dalam kegiatan berbicara menggunakan puisi Acrostic. Respon diatas juga telah memenuhi kriteria keberhasilan dimana ≥ 70% siswa merespon secara positif.

Hasil penerapan puisi Acrostic dalam kegiatan pengajaran berbicara terbukti mampu meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Keberhasilan ini menguatkan pendapat Brown (2001: 271) mengenai keterampilan mikro dalam komunikasi oral sangatlah penting. Melalui Puisi Acrostic siswa dapat mengekspresikan  ide secara lisan  menggunakan mimik wajah dan bahasa tubuh bersamaan dengan bahasa verbal untuk menyampaikan makna, Selain itu siswa juga dapat berinteraksi melalui proses tanya jawab seputar puisi yang dibuat.

Semua puisi memerlukan “pilihan kata yang tepat” dan puisi Acrostic   adalah sebuah cara untuk memperkenalkan konsep ini. Siswa memperoleh pengalaman dengan pemilihan kata karena mereka mencari kata yang sesuai dengan huruf –huruf yang ada pada subyek puisi. Dengan demikian, siswa dapat menggunakan beberapa kosakata yang tepat ketika berbicara terutama dalam mengeskpresikan ungkapan cinta (love),  sakit (pain)  dan lega (relief) yang pada kenyataannya ada beberapa ungkapan yang memiliki makna berbeda  dalam Bahasa Inggris tetapi bermakna sama dalam Bahasa Indonesia.

E. PENUTUP

Menggunakan puisi Acrostic  dalam pembelajaran bahasa, terutama keterampilan berbicara adalah sebuah cara yang menarik. Melalui puisi ini siswa dapat menuangkan ide atau gagasan mereka mengenai ungkapan-ungkapan tertentu dalam Bahasa Inggris dengan kegiatan yang menyenangkan. Penggunaan puisi Acrostic  juga telah berhasil mengatasi keterbatasan siswa dalam menggunakan kosakata yang seringkali menjadi penghambat kelancaran berbicara serta mengatasi kebosanan siswa terhadap kegiatan berbicara yang hanya menghafalkan dialog. Manfaat sastra, dalam hal ini puisi dapat dirasakan secara nyata apabila guru melibatkan siswa secara langsung dan aktif dalam penerapannya karena siswa akan lebih ingat terhadap hal yang dilakukannya daripada hanya mendengar atau melihat.

F. DAFTAR PUSTAKA

Brown, H. Douglas. 2000. Principles of Language Learning and Teaching. ( 4th ed.). London : Longman

Kartini. 2011. Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Bebas dengan Teknik Akrostik pada Siswa kelas VA MI Semplak Pilar Kabupaten Bogor. Jurnal Pendidikan Dompet Dhuafa . 1(1), hlm. 1-11

Lawtie, F.2004.Teaching Speaking Skill to Overcoming Classroom Problems.(Online, http://www.teachingenglishorg.uk/think/articles/teaching-speaking-skills-2-overcoming-classroom-problems accessed on May 3, 2014)

Luoma, S. 2004.  Assessing Speaking. United Kingdom: Cambridge University Press.

Maher, John C. 1982. Poetry for Intstructional Purposes: Aunthenticity and Aspects of Performance, FORUM volume XX number 1 January 1982, 17-21

Murdibjono, A.W. 2012. Literature and Its Teaching. Malang: UNISMA

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Oemarjati, Boen S. 1992. Dengan Sastra Mencerdaskan Siswa, Memperkaya Pengalaman dan Pengetahuan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius

Sumardjo, J. 1994. Sastra dan Massa. Bandung: ITB.

Waluyo, H. J. 2005. Apresiasi Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Check Also

PEMUTARAN “FILM BERSUBTITEL” UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA INGGRIS

Afi Ni’amah, M.Pd. Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Jombang  dan Hermin Maslamah, S.Pd. MTs. …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!