Foto : Suciharto sudah menjadi Juru kunci makam CL. Coolen selama hampir sepuluh tahun. (aditya)
Foto : Suciharto sudah menjadi Juru kunci makam CL. Coolen selama hampir sepuluh tahun. (aditya)

Penyiar Pertama Kekristenan di Ngoro

Reporter : aditya eko

NGORO, MSP – Penyebaran agama Kristen di Pulau Jawa kerap kali diasumsikan dengan kehadiran bangsa Barat. Namun, asumsi tersebut tidak tepat jika dikaitkan pada penyebarab agama Kristen di Pulau Jawa. Pada rentang tahun 1820 – 1847, Pulau Jawa adalah pulau yang tertutup bagi proses penyebaran agama Kristen. Kebijakan pemerintah Hindia Belanda ini lebih bersifat politis karena untuk menghindari keributan yang bisa mengundang kemarahan para ulama Islam.

Pada kenyataanya, penyebaran agama Kristen di Jawa tetap berlangsung. Hal ini terbukti dengan kemunculan komunitas Kristen pertama di Jawa Timur pada tahun 1827. Ini ditandai dengan munculnya Persil Ngoro.Persil ini dibuka oleh Conrad Laurens Coolen, ayahnya seorang Rusia, ibunya berasal dari kalangan priyayi Jawa Solo. Maka dalam kehidupannya banyak dipengaruhi budaya Jawa.

Hal ini membuat CL. Coolen kerap menggunakan budaya Jawa sebagai media perantara dalam kegiatan penyebaran Kristen Protestan. Ia memadukan budaya Jawa dengan ajaran Kristen untuk mempermudah penyampaian terhadap masyarakat. CL. Coolen mengajarkan agama Kristen yang sangat sinkretis, dengan memanfaatkan tembang dan dzikir untuk menyampaikan dasar – dasar Alkitab.

Juru kunci makam CL. Coolen, Suciharto menuturkan, CL. Coolen memang tidak serta merta memperkenalkan Kristen, tetapi menunggu membaiknya kesejahteraan penduduk Ngoro terlebih dahulu. Perkembangan Ngoro sebagai desa Kristen menjadi titik awal dalam penyebaran Kristen di Jawa Timur. Masyarakat Jawa pun mulai mengenal Kristen tanpa melalui penjelasan dari pendeta Belanda. Hal ini menjadi sesuatu yang menarik karena penyebaran agama Kristen dilakukan oleh kalangan non-gereja.

“Dia memang bukan berasal dari lembaga Zending manapun. CL. Coolen adalah seorang mantan tentara yang selama masa dinasnya bertempat tinggal di Surabaya. Dia adalah seorang mantan tentara Belanda divisi artileri, pada masa pemerintahan Daendels,” kata Mbah Kumis sapaan akrab Suciharto.

Ketertarikannya pada masalah keagamaan memang tidak diketahui dengan pasti. Ada kemungkinan ketertarikannya  muncul saat dia bertempat tinggal di Surabaya. Dia kemudian keluar dari dinas ketentaraan dan menjadi pengawas hutan di daerah Mojoagung. Pada tahun 1827, CL. Coolen memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai pengawas hutan.

“CL. Coolen selanjutnya memohon izin kepada pemerintah Hindia Belanda untuk membuka hutan Ngoro menjadi sebuah persil. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 3 Juli 1827,” ujar laki-laki berumur 61 tahun tersebut.

Pada saat pembukaan Persil, tambah Suciharto, CL. Coolen menerapkan hal yang berbeda pada persil Ngoro. CL. Coolen tidak menaati anjuran pemerintah Belanda tentang komoditi yang seharusnya ditanam di persil tersebut. Tanaman yang harus ditanam adalah tanaman ekspor yaitu nila, tebu, kopi dan tanaman jenis ekspor lainnya. Dia justru menanam padi seperti halnya orang Jawa. Oleh sebab itu, banyak orang menggolongkan CL. Coolen sebagai kiai Jawa, karena cara yang digunakan dalam menyebarkan Kristen lebih mirip dengan kiai Jawa ketimbang zendeling Belanda.

Desa Ngoro adalah sebuah persil, namun pada kenyataannya, komoditas yang dikembangkan oleh penduduk desa tersebut adalah padi. Komoditas ini menjadikan desa ini bukan seperti halnya persil pada umumnya, tetapi merupakan sebuah desa Jawa. Pembudidayaan padi juga merupakan salah satu daya tarik kehadiran para petani Jawa untuk bermukim di desa Ngoro.

CL. Coolen wafat pada tanggal 2 Juli 1873 dan dimakamkan di pemakaman milik pribadi yang berada di Kecamatan Ngoro tepatnya diantara jalan Arjuno dan jalan Kandangan. Makam tersebut memiliki luas lahan lebih kurang 50 meter persegi dengan ada beberapa makam dari istri dan anak-anaknya CL. Coolen serta para pengikutnya.

Suciharto menjelaskan bahwa makam ini juga sering dibuat untuk berziarah oleh jemaat greja di Ngoro, terlebih pada saat Natal dan Tahun Baru. Tidak hanya itu, keluarga dari CL. Coolen yang berada di Surabaya juga kerap datang. Bahkan dari Belanda pun juga pernah mengunjungi Makam tersebut. Tiyas

KAMUS
Kata Arti Kata
1.      Persil

 

 

 

2.      Zending

·         Tanah perkebunan yang dibuka atas izin pemerintah Hindia Belanda dan jenis tanamannya diatur oleh Belanda.

 

·         Pekerjaan atau tugas orang-orang yang menyebarkan agama di luar negeri (Belanda).

Check Also

Monument Ringin Conthong. (aditya)

Monument Ringin Conthong Doelu Sekarang

Reporter : aditya eko JOMBANG – Salah satu ciri khas sebuah kota ditandai dengan bentuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!