Foto : Penampilan anak didik berkebutuhan khusus dari PAUD Pelangiku dalam acara peluncuran Gerakan Indonesia Membaca (GIM). (fitri)
Foto : Penampilan anak didik berkebutuhan khusus dari PAUD Pelangiku dalam acara peluncuran Gerakan Indonesia Membaca (GIM). (fitri)

Sistem Pendidikan Ideal ABK

Reporter : fitrotul aini.

JOMBANG, MSP – “Don’t be a bully. Don’t even be a bully to the bullies, it just makes more bullies.” –Robby Novak.

Dua kasus bullying (perundungan) mencuat menjelang tahun pelajaran baru pada bulan Juli lalu. Diantara dua kasus tersebut, salah satu korban diduga anak berkebutuhan khusus (ABK) yang seharusnya tidak dijadikan sebagai bahan candaan apalagi bully-an. ABK kerap kali mendapat perlakuan kurang baik atau bahkan menjadi korban perundungan karena mereka dianggap ‘aneh’ dan berbeda dari orang-orang normal.

Pengelola Rumah Asuh Anak Pelangiku (APEL), Salis Mustaqim, M.Psi menjelaskan pandangan dan perlakuan berbeda terhadap ABK salah satunya disebabkan karena sistem pendidikan di Indonesia yang masih menganut sistem segregasi dimana dilakukan pemisahan antara anak-anak normal dan ‘berbeda’.

“Pendidikan di Indonesia menurut saya masih sangat berpusat pada keseragaman dimana standar yang digunakan adalah standar normalitas. Sehingga ketika ada ABK akan dianggap berbeda dan tidak bisa diterima di sebuah lembaga pendidikan. Dampaknya, ABK tersebut akan dimasukkan ke lembaga-lembaga yang dianggap cocok dan pas dengan kondisi mereka,” ujar pria yang akrab disapa Salis ini.

Ditambahkan oleh bapak tiga putra ini, standar normalitas ini mengakibatkan belum terlihatnya penghargaan terhadap keberbedaan tersebut diakomodasi atau diterima oleh sebuah sistem pendidikan di Indonesia. Padahal pada dasarnya setiap anak itu unik, memiliki karakter berbeda dan tidak bisa disamakan. Sehingga jika sistem yang digunakan masih seperti sekarang ini semuanya serba seragam, tentunya sangat tidak adil.

Hal ini jugalah yang kemudian menjadi masalah kenapa ABK belum mendapat aksesbilitas layanan pendidikan yang memadai. Karena mereka dianggap berbeda dan dianggap tidak dapat memenuhi standar kurikulum yang ada. Disamping masih terpusat pada keseragaman, yang terjadi pada sistem pendidikan di Indonesia adalah posisi dimana anak yang harus menyesuaikan dengan sistem yang sudah terbangun.

“Padahal idealnya sekolah dibangun sesuai dengan kebutuhan dan cara belajar anak. Contohnya anak tuna daksa diharuskan menyesuaikan sistem pembagian kelas di sekolah, dimana kelas ada di lantai atas yang tentu akan menyulitkan anak tersebut. Disini seharusnya sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Bukan peserta didik yang menyesuaikan, karena sudah pasti peserta didik akan kesulitan dalam penyesuaiannya,” jelas Salis.

Lebih lanjut, Salis menjelaskan agar sekolah dapat menciptakan sistem yang ramah anak saat pendaftaran dilakukan proses identifikasi dan asesmen, lakukan profiling laporan kemampuan akademik sejauh mana, kesehatan, kemandirian, kemampuan komunikasi, dan sebagainya yang kemudian dijadikan bekal apakah anak bisa diperlakukan sama dengan anak-anak  yang lainnya? Ataukah dia harus mendapat layanan khusus. Bukan justru memperlakukan anak secara menyeluruh dengan sama. Harus ada proses identifikasi anak-anak yang berpotensi mengalami persoalan dalam proses belajar. Sehingga ada proses identifikasi, observasi lebih dalam sehingga dapat menyusun profil atau gambaran tentang anak.

SLB sebagai Pusat Sumber Belajar

Memahami bahwa ABK akan kembali pada masyarakat umum, sistem pendidikan juga mulai melakukan penyesuaian. Beberapa ABK dapat diterima di sekolah reguler. Namun lagi-lagi, permasalahan sistem yang kembali menghambat.

“Jika sekolah menerima ABK, yang kerap terjadi adalah penerapan pendidikan integrasi yakni sekolah menerima ABK tersebut tetapi anak yang harus menyesuaikan diri dengan sistem yang dibuat oleh lembaga. Padahal seharusnya adalah penerapan pendidikan inklusif yang mengakomodasi atau menyesuaikan kondisi ABK agar mereka sejajar dan punya hak yang sama belajar di lingkungan yang sebenarnya,” terang Salis.

Contohnya ketika sekolah menerima peserta didik ABK tuna rungu yang kalau berbicara menggunakan bahasa isyarat namun sekolah tidak mempunyai guru yang bisa mengajar, maka tugas Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah mengajarkan bahasa isyarat untuk guru di sekolah reguler.

Jika sistem pendidikan inklusif ini dapat berjalan, maka peran SLB bukan lagi sebagai lembaga utama tempat ABK untuk menuntut ilmu melainkan SLB dijadikan sebagai pusat sumber belajar.

“Kebutuhan belajar dipenuhi oleh lembaga inklusif (sekolah) sementara SLB untuk memenuhi kebutuhan terkait hal-hal yang bersifat rehabilitatif. Terkait kebutuhan akan kekhasan yang dimiliki ABK yang tidak bisa dipenuhi oleh lembaga inklusif,” tutup Salis.       Tiyas

Check Also

Foto : Semangat Perwakilan Jombang untuk FLS2N SMP Provinsi 2017. (chicilia)

Jombang Siap FLS2N Nasional 2017

Reporter : chicilia risca JOMBANG, MSP – Mewakili Kabupaten Jombang dibidang Festival Lomba Seni Siswa …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!