Yang Telah Lenyap

Chatarina Felicitas*)

Salju turun dengan ganasnya, angin mendadak jadi sangat dingin sehingga rasanya seperti menusuk-nusuk tulang, langit terlihat lebih gelap di banding malam-malam biasanya. Kau mengenakan sweater hitam yang kau dapat dari kakak iparmu sebagai hadiah kepulanganmu. Jeans Ralph Lauren dan mantel putih H&M diskon 60% yang baru kau beli di Myeongdong dengan menggunakan uang yang dikirim kakakmu. Hanya syal merah yang terlilit di lehermu yang mengkhianati label-label mewah itu. Mungkin jika kakakmu tahu berapa banyak yang kauhabiskan dalam sekali belanja ia akan berceloteh panjang lebar. Tapi ia tak tahu, toh ia tak akan tahu.

Lupakan tentang jumlah uang yang kauhabiskan.

Kau melangkahkan kaki menuju sebuah kedai kopi, tempat dimana kau dan kakakmu akan bertemu, setelah sekian lama. Di musim yang payah ini, orang-orang tetap melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Mereka tetap pergi bekerja, belanja, kencan, bahkan para pemabuk pun tetap mabuk. Lalu bagaimana denganmu? Ah, apakah kau bahkan punya aktivitas untuk dilakukan? Bukannya kau pengangguran? Yang bahkan menjadi benalu di keluargamu sendiri? Kau menghembuskan napas, kemudian mengelap matamu yang mulai basah karena menangis. Siapkah kau menjalani kehidupan ini, lagi? Ataukah kau hanya bisa menangis dan meratapi dirimu sendiri?

 “Wah, kau terlihat cantik sekali mengenakan sweater itu,” ujar wanita di hadapanmu. Kakak iparmu. “Tak salah aku membelinya mahal-mahal di Forever 21.”

Kau hanya memberinya ucapan terima kasih sambil sedikit mengangkat sudut bibirmu.

Dua orang yang duduk di hadapanmu sedang berceloteh panjang lebar mengenai pekerjaannya, keluarganya, liburan yang mereka lakukan enam bulan lalu. Tapi tak sedetik pun kau memperhatikan apa yang mereka ucapkan. Sesekali kau memberinya sebuah senyuman, senyuman yang orang bodoh pun tahu kalau itu senyuman palsu. Kau sibuk memperhatikan apa yang ada di luar sana. Memperhatikan beberapa pasang kekasih yang berlalu lalang; sang perempuan yang mengapit lengan lelakinya. Beberapa orang dengan setelan Tom Ford dan berbalut mantel desainer Tommy Hilfiger atau Marc Jacobs terlihat melangkahkan kakinya dengan cepat. Bahkan kau baru menyadari bahwa tempat dimana kau duduk sekarang adalah negeri kelahiranmu. Kau merantau di negeri orang terlalu lama, sampai-sampai kau lupa bahwa kau punya tanah kelahiran. Tapi benarkah kau pergi merantau? Bukannya melarikan diri?

Semua orang pernah atau akan mengalami titik terendah dalam hidupnya, begitu juga denganmu. Tapi apakah kau bisa menghadapinya? Saat kau mengalaminya kau hampir bunuh diri. Jika saja kawan lamamu tak mencegahmu menapakkan kaki ke dasar Sungai Han, mungkin sekarang kau sudah berwujud abu yang disimpan dalam guci porselen berwarna putih. Keluargamu mungkin sekarang sudah memberikan persembahan padamu setiap hari raya. Ibumu mungkin akan menghabiskan tiga bulan pertama dengan mengurung dirinya di kamar, sedang ayahmu akan menyibukkan dirinya dengan menonton pertandingan bola atau futsal sebagai usaha untuk melupakanmu. Kakak laki-lakimu mungkin akan cuti kerja selama dua minggu. Pada minggu pertama ia akan tinggal di rumah orangtua kalian di Busan dan pada minggu kedua ia akan kembali ke rumahnya di Seoul sambil mengenang hal-hal baik dan hal-hal buruk yang biasa kau lakukan. Kakak iparmu itu mungkin akan sibuk membeli buah-buah untuk persembahan terakhir dan menyiapkan segalanya.

Tapi nyatanya hal itu belum terjadi sampai saat ini.

Sebagai gantinya, kau mengambil semua uang tabunganmu, uang yang akan kau gunakan untuk membeli penthouse yang kau idam-idamkan. Kau ambil uang itu dan kau tukar dengan tiket pesawat tujuan Vatikan. Kau habiskan lebih dari lima bulan di sana lalu minggat ke Spanyol. Di sana kau menjalani hidup layaknya orang mati. Tak ada gairah sama sekali. Hanya satu hari, satu periode dua puluh empat jam untuk kau lewati, begitulah kau selalu menyemangati dirimu sendiri tiap harinya. Tapi dengan kalimat itulah kau berhasil bertahan.

Ketika kau merantau, mendadak kau jadi menyukai Rachmaninoff, bahkan favoritmu Prelude Op. 23 No.5 in G. Minor. Apakah kau begitu marah dengan hidupmu sendiri? Apakah kau begitu kecewa?

Kehilangan. Itulah titik terendah dalam hidupmu. Kau kehilangan harapan dan kepercayaanmu. Rasa optimis yang selama ini ada dalam dirimu tiba-tiba saja lenyap tak tersisa, harapan yang tersimpan dalam lubuk hatimu seketika sirna. Kau sudah berkali-kali gagal, tapi berkat optimisme dan harapan yang ada itu kau bangkit lagi dan berjuang. Saat itu kau tak peduli pada apapun, kau tetap meneruskan langkahmu walau orang bilang kau akan gagal. Segala cara sudah kau coba untuk mewujudkan mimpi yang kau miliki, tapi rasanya seisi jagad raya ini berbondong-bondong berusaha menggoyahkanmu. Tak ada satu pun keberhasilan yang kau alami, hanya kegagalan. Hingga suatu hari, seperti naskah drama yang harus dimainkan, kau mengalami kegagalan terbesar dalam hidupmu. Kegagalan yang kau bayangkan pun tak akan sanggup. Namun kegagalan itu terjadi dalam hidupmu. Seketika itu juga kau kehilangan semua hal yang menjadikanmu dekat dengan impianmu. Harapan dan kepercayaan.

Apa Tuhan itu memang benar ada? Jika memang benar ada, apa Dia itu adil?

Rasanya Tuhan sangat tak adil. Kau sudah memberikan semua yang kau miliki, kau mengorbankan segalanya. Kau pikir kau tak pernah menyakiti hati orang lain. Kau melakukan segala sesuatu yang kau tahu itu baik. Kau pergi ke gereja setiap hari Minggu, kau berdoa sebelum dan sesudah makan, bahkan kau hafal lagu Amazing Grace sejak umurmu tiga tahun. Tapi kenapa rasnya Tuhan begitu jahat padamu? Kau merasa seolah-olah kau ini mahkluk yang paling dibenci Tuhan.

Jika kau gagal, kau selalu bangkit lagi karena kau tahu kesuksesan tak diperoleh secara instant. Tapi mengapa kali ini kau tak mau bangkit lagi? Mungkin kau sudah lelah untuk bangkit dan berjuang lagi. Ya… mungkin kau sudah lelah.

Kau berkata kau ingin merantau, tapi sebenarnya kau melarikan diri. Selama empat tahun kau tak pernah menghubungi keluargamu, kau bahkan membuang ponselmu di stasiun kereta bawah tanah Yong-san. Kau pergi ke tempat dimana tak seorang pun mengenalimu. Bahkan kau tak pulang untuk memberi penghormatan terakhir pada nenekmu. Sangkamu kau akan bahagia di sana? Semakin lama kau semakin jauh dari keberhasilanmu. Kegagalan-kegagalan yang selama ini kau alami menjadi hal yang sia-sia belaka. Tak ingatkah kau kalau kegagalan-kegagalanmu itu membawamu semakin dekat pada keberhasilanmu? Sama seperti Nabi Elia, hamba Allah yang paling setia, yang diuji habis-habisan. Kau juga tengah berada di tengah ujian saat itu. Tapi kau tak bisa memahaminya dan meninggalkannya pada saat-saat terakhir. Kau terlalu sibuk menyalahkan kolega-kolegamu, kau terlalu sibuk menyalahkan dirimu sendiri, kau bahkan terlalu sibuk menyalahkan Tuhan. Seandainya pada saat itu kau tak lari seperti itu, mungkin sekarang kau sudah menjadi salah seorang dari orang-orang dengan setelan Tom Ford dan berbalutkan mantel Tommy Hilfiger atau Marc Jacobs itu. Apa kau akan menyesal jika kau mengetahuinya?

Sekarang kau duduk berhadap-hadapan dengan kakak laki-laki dan kakak iparmu di sebuah kedai kopi. Kakak laki-lakimu menyeruput Americano pesanannya, kemudian menghela napas panjang. Kakak iparmu sibuk mengaduk-aduk cappuccinonya. Kakakmu yang walaupun tak bekerja di perusahaan hebat, ia berhasil menjadi pengacara top dan sudah memenangkan puluhan kasus. Paling tidak lebih dari tiga per empat kasus yang ia terima selalu ia menangkan. Bahkan kakak iparmu yang cantik itu bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan. Kenapa kakakmu begitu beruntung? Kenapa bukan kakakmu saja yang gagal. Tepat seperti itulah pikiran egoismu saat itu.

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanyanya sembari meletakkan cangkir.

Kau mengedikan bahumu kemudian mengalihkan pandanganmu dari jemarimu ke wajahnya. Sekali lagi, kakak laki-lakimu menghela napas panjang.

Kali ini kakak iparmu mengimbuhi. “Mungkin kau mau bekerja di tempat yang sama denganku? Kudengar baru-baru ini mereka membutuhkan pegawai tambahan di bagian keuangan. Untuk pegawai magang biasa gajinya tak akan terlalu banyak memang, tapi lama-lama akan bertambah dengan sendirinya jika kinerjamu bagus.”

Ketertarikanmu tak muncul mendengar tawaran kakak iparmu itu. Kau hanya berkata padanya bahwa kau akan mempertimbangkannya lebih dulu.

Apa yang harus kau lakukan? Apa yang akan kau lakukan?

Kau hanya memegang cangkir Vanilla Latte yang berangsur-angsur dingin padahal minuman itu belum kau teguk setetes pun. Kau sendiri tak tahu mengapa kau memesannya. Mendadak kau terlihat asing di mata kakakmu, seolah-olah jiwamu tertinggal di suatu tempat di bumi ini yang mana tak akan bisa kau temukan lagi. Ragamu memang masih sama wujudnya, hanya saja kau menjadi lebih kurus sehingga tulang-tulang pipimu yang menonjol itu terlihat dengan jelas. Namun yang jelas, sorot matamu sudah tak berbinar lagi.

Kau sudah kembali, kau memutuskan untuk kembali. Tapi apakah harapan dan kepercayaanmu juga akan kembali seiring berjalannya waktu? Entahlah. Yang pasti kau harus memulai segala sesuatu dari awal lagi.

*) rinafelicitas10@gmail.com

Check Also

Ikan

Alib Syah Zanki *) Di suatu waktu, dari jendela Ku lihat ikan-ikan berenang kesana-kemari Apakah …

One comment

  1. I truly love your website.. Great colors & theme. Did you build this
    website yourself? Please reply back as I’m hoping to create my very own blog and want to learn where you got this from or
    just what the theme is called. Appreciate it!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!